GENMILENIAL.ID — Berbagi tidak selalu harus menunggu seseorang memiliki banyak. Di tengah kehidupan yang sederhana, sesuatu yang berasal dari kebun sendiri justru dapat menjadi bentuk perhatian yang memiliki makna mendalam.
Hal itu tergambar dalam kisah yang dibagikan seorang guru di Papua, Ajup Antukali.
Ia menceritakan momen ketika para siswanya datang ke sekolah sambil membawa sayur dan buah hasil dari ladang mereka untuk diberikan kepada guru.
Momen tersebut dibagikan Ajup melalui akun Instagram @guru.papua dan menjadi gambaran tentang cara anak-anak di pedalaman Papua memaknai berbagi, rasa syukur, serta penghargaan kepada guru.
Baca Juga: Makam Sutrimo karumga Febrie Adriansyah mulai dibongkar, ekshumasi jenazah libatkan ahli forensik
"Papua tidak kekurangan sayur dan buah untuk makanan bergizi," tulis Ajup sebagaimana dikutip dari unggahannya pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Bagi Ajup, pemberian tersebut tidak dapat dilihat hanya dari nilai atau jumlah barang yang dibawa.
Ada ketulusan dan nilai pendidikan karakter yang tumbuh dari kebiasaan anak-anak berbagi apa yang mereka miliki.
Datang ke sekolah membawa hasil kebun
Ajup menceritakan, para siswa datang ke sekolah dengan membawa berbagai hasil kebun berupa sayur dan buah. Mereka memberikannya kepada guru sebagai bentuk perhatian.
Baca Juga: Lava walk, roda tank hingga tarik tambang, Kemenag Subang ramaikan HUT ke-81 RI
Tidak ada kesan bahwa pemberian tersebut dilakukan karena tuntutan. Justru, menurut Ajup, anak-anak melakukannya berdasarkan kesadaran mereka tentang arti berbagi dan menghargai orang lain.
"Di pedalaman Papua, saya belajar bahwa kekayaan bukan selalu diukur dari apa yang dimiliki, tetapi dari hati yang mau berbagi," ungkap Ajup.
Ia melihat tindakan sederhana tersebut sebagai bentuk balas budi yang lahir secara alami.