“Enggak bisa turun, airnya dalam. Mau nampung air hujan juga nggak bisa,” lanjutnya.
Situasi tersebut membuat mereka hanya bisa bertahan sambil berharap air segera surut. Namun kenyataan berkata lain.
Baca Juga: 23 Marinir jadi korban longsor di Cisarua Bandung Barat, 4 orang ditemukan meninggal
Mengira hari itu kiamat
Menurut pengakuannya, warga sama sekali tidak menyangka banjir akan berlangsung selama berhari-hari. Biasanya, air akan surut keesokan harinya.
“Kami pikir hari itu sudah kiamat. Biasanya satu hari surut, ini berhari-hari,” tuturnya.
“Selama tiga hari empat malam kami basah kuyup, enggak ganti baju, perut kembung, badan lemas karena kelaparan,” tambahnya.
Aceh masih tanggap darurat bencana
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Aceh kembali memperpanjang status tanggap darurat bencana hidrometeorologi untuk keempat kalinya.
Baca Juga: Ahok sebut golf jadi tempat negosiasi paling murah saat bersaksi di kasus korupsi minyak
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), menetapkan masa tanggap darurat selama tujuh hari, terhitung mulai 23 hingga 29 Januari 2026.
Kebijakan ini diambil karena sejumlah daerah, termasuk Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Pidie Jaya, masih membutuhkan penanganan darurat pascabanjir.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 773 warga Pidie Jaya terdampak banjir bandang akan segera menempati hunian sementara (huntara) pada tahap pertama.***