Isinya mengatur langkah-langkah dasar bertahan hidup jika listrik, air, dan akses pangan terputus.
Beberapa poin penting dalam panduan itu antara lain:
- Menyediakan air minum minimal 3 liter per orang
- Menyimpan makanan kering untuk beberapa hari
- Menyiapkan tas darurat berisi uang tunai
- Menyediakan senter, lilin, dan kebutuhan esensial
- Mengantisipasi kondisi tanpa listrik hingga 72 jam
“Disarankan punya tas darurat. Isinya uang cash, makanan kering, lilin, senter. Seserius itu hidup di Belanda,” ujar Dinasti.
Warganet salut, nilai pemerintah sangat siaga
Unggahan tersebut langsung menarik perhatian publik. Hingga Sabtu siang, 17 Januari 2026, postingan Dinasti telah disukai lebih dari 15 ribu pengguna Instagram.
Baca Juga: Kopi Subang tembus pasar Afrika, 96 ton diekspor ke Aljazair jadi bukti koperasi lokal naik kelas
Warganet pun ramai memberikan tanggapan, sebagian besar mengapresiasi kesiapan pemerintah Belanda dalam melindungi warganya dari potensi krisis.
“Ilmu bertahan hidup memang penting, tas darurat itu wajib,” tulis akun @asephoer.
“Persiapan 72 jam itu seperti BPJS, semoga nggak dipakai tapi penting ada,” komentar akun @kireywdari.
Cerminan kesiapsiagaan negara hadapi krisis
Curhatan Dinasti ini menjadi gambaran bagaimana negara-negara maju menanamkan budaya kesiapsiagaan kepada warganya.
Baca Juga: Polres Subang wujudkan rumah layak huni untuk Ibu Armah lewat program Rutilahu
Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai bentuk antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi gangguan besar.
Kisah ini pun menjadi refleksi bahwa kesiapan menghadapi kondisi darurat bukan sekadar tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kesadaran setiap individu.***