Bocah dalam video tersebut mengaku belum bisa kembali bersekolah karena bangunan sekolah ikut rusak akibat banjir.
Tak hanya itu, seragam sekolah dan pakaian miliknya juga hanyut terbawa arus air.
Baca Juga: Jay Idzes sambut John Herdman, kapten Timnas ajak ukir sejarah baru bersama Garuda
“Sekarang nggak sekolah, kena banjir juga. Seragam nggak ada, hanyut,” katanya lirih.
Kondisi desa pascabanjir masih dipenuhi lumpur dan tumpukan kayu yang terbawa arus, menandakan besarnya daya rusak bencana yang melanda wilayah pedalaman Aceh Timur tersebut.
Akses bantuan masih sulit, mengandalkan kapal nelayan
Desa Pante Kera hingga kini masih tergolong terisolir. Letak geografis yang dipisahkan sungai besar membuat akses darat nyaris tidak bisa dilalui.
Warga dan relawan harus menggunakan rakit atau kapal nelayan untuk mencapai desa tersebut.
Baca Juga: Baskara Putra luruskan stigma Aksi Kamisan, tegaskan perjuangan HAM bukan isu lima tahunan
Berdasarkan keterangan dalam unggahan lain, warga masih membutuhkan bantuan logistik, air bersih, obat-obatan, pakaian, hingga perlengkapan ibadah.
Sementara itu, kebutuhan listrik hanya mengandalkan satu unit genset yang dihidupkan pada malam hari dan digunakan bersama-sama oleh satu desa.
“Sudah lebih dari satu bulan warga hanya mengandalkan genset, itu pun dipakai bergantian,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.
Untuk mencapai Desa Pante Kera, perjalanan harus ditempuh dengan kapal nelayan selama lebih dari satu jam menyusuri aliran sungai, membuat distribusi bantuan menjadi tidak mudah.***