“Nurhalim,” koreksi Bapak lirih. Tapi tak ada yang peduli. Di tempat ini, nama hanya penting jika disandingkan dengan gelar.
Bapak duduk di panggung, diapit dua pejabat beraroma parfum mahal. Ia diminta menceritakan kisah suksesnya.
“Apa rahasianya tetap bertahan, Pak?” tanya moderator.
Bapak diam lama. Lalu menjawab, “Saya tidak bertahan. Saya cuma belum mati.”
Ruangan senyap. Beberapa orang tertawa kecil. Moderator segera menimpali, “Wah, humor Bapak khas rakyat ya, lucu!”
Baca Juga: Viral! oknum satpam diduga aniaya pria berkebutuhan khusus, aksi brutal terekam CCTV
Tapi Bapak tak tertawa. Ia melanjutkan “Kami jual nasi, bukan narasi. Tapi yang kenyang justru mereka yang kenyang oleh kata, bukan rasa.”
Tawa mendadak hilang. Beberapa mulai melirik jam tangan. Acara buru-buru ditutup. Bapak dibungkus plakat dan foto bersama.
Dalam perjalanan pulang, kami diam. Sampai di rumah, Bapak membuka bingkisan dari panitia: sertifikat dan amplop berisi uang transport.
Mak membaca isinya, lalu berkata, “Cukup buat dua karung beras dan satu jeriken minyak. Tapi nggak cukup buat beli keadilan.”
Baca Juga: Pengguna keluhkan kursi Wuling Air EV: Kurang nyaman dan posisi duduk tak rebah
Hari itu, meja makan kami kosong. Bukan karena tak ada yang dimasak, tapi karena kami terlalu kenyang oleh jengah.
Bapak duduk, mencoretkan sesuatu di kertas bon: sketsa meja panjang. Di ujungnya, seorang anak kecil berdiri menjangkau piring yang terlalu jauh.
“Ini kamu, Lim,” katanya.
Aku menatap gambar itu lama. Dan aku tahu, itu bukan sekadar sketsa.