humaniora

CERPEN: Negeri di atas meja siap saji

Rabu, 23 Juli 2025 | 21:06 WIB
Ilustrasi - Negeri di atas meja siap saji

Baca Juga: Lovina dan Medewi Festival siap gairahkan pariwisata Bali Barat Juli ini

Tapi mulutku terkunci oleh pendingin ruangan dan kenyataan bahwa kami hanyalah tukang antar.

Di dapur, aku melihat beberapa nasi masih utuh.

“Ini nggak dimakan?” tanyaku pada satpam.

“Biasalah, Mas. Buat formalitas aja,” jawabnya sambil mengangkat bahu, seolah memikul dosa orang lain.

Aku bawa satu kotak pulang. Di gang, anak-anak tetap bermain dengan celana bolong, ibu-ibu menyuapi anak dengan air gula, dan seekor kucing menciumi plastik nasi yang masih hangat.

Baca Juga: Gatep Lawas, surga tersembunyi di Buleleng dengan river tubing 625 meter: Petualangan seru di tengah alam asri Bali Utara

Saat kubuka kotak itu di meja reyot kami, aromanya lezat, tampilannya menggoda. Tapi terasa pahit di lidah, bukan karena cabai, tapi karena isinya, simbol sandiwara.

Malamnya, bapak duduk diam menatap jalanan yang basah oleh hujan dan kebingungan.

“Mereka bilang mau entaskan kemiskinan,” gumamnya, “tapi apa mereka pernah benar-benar lihat wajahnya?”

Tangannya menggenggam gelas teh tubruk dingin seperti nasib kami.

“Kenapa kita tetap diam, Pak?” tanyaku pelan.

Baca Juga: Gas 3 kg digelapkan, kerugian ratusan juta: Polres Subang bekuk sindikat 'tabung siluman'

Ia menghela napas panjang. “Karena di negeri ini, kadang bersuara lebih berbahaya dari lapar.”

Aku terdiam. Angin malam menyusup seperti berita buruk.

Halaman:

Tags

Terkini