humaniora

CERPEN: Pelangi purba di langit Melayu

Kamis, 10 Juli 2025 | 22:21 WIB
Ilustrasi - Pelangi purba di langit Melayu

Baca Juga: Wakil Ketua KPK mengaku sedih lihat persepsi korupsi RI tertinggal dari Malaysia dan Singapura

Dari pintu utama Gedung Fakultas Hukum, muncullah Dekan Syariefuddin, seorang pria tambun dengan peci miring dan jenggot ala Laksamana Cheng Ho.

Ia berjalan tergesa-gesa menuju Gedung Ekonomi, sambil membenarkan sarungnya yang melorot sedikit. "Tolong! Tolong! Gedung ini mau makan lagi!" teriaknya.

Para mahasiswa memandang heran. Makan? Gedung?

Gedung Ekonomi kembali bergetar, dan kali ini, dari lobi utamanya, keluar suara gemuruh.

Bukan gemuruh biasa, tapi seperti suara kerongkongan raksasa yang sedang menelan sesuatu.

Baca Juga: Sule siap meriahkan senam sehat Tridjaya di Pagaden, Subang

"Itu ha, kemarin ia sudah telan sumur minyak di Riau ini tiga biji," kata Pak Harun, penjaga keamanan kampus, tanpa ekspresi. "Sekarang, entah apa pula yang mau dihabiskannya."

Raja Ali Haji, dengan segala keberanian filosofisnya, menghampiri Dekan Syariefuddin.

"Tuan Dekan! Mengapa gedung ini begitu… rakus? Adakah fatwa Melayu lama yang menyebutkan tentang gedung yang bernyawa dan berhutang budi pada sumber daya alam?"

Dekan Syariefuddin mengernyitkan dahi. "Fatwa? Budak Raja ni merepek! Ini bukan fatwa, ini fakta! Gedung Ekonomi ni memang tak pernah kenyang. Ia hidup dari angka-angka keuntungan. Lagi banyak dikuras, lagi besar perutnya."

Baca Juga: Sindiran dingin Dedi Mulyadi soal macet Bandung: Memang macet, tapi dingin

"Tapi Tuan Dekan," sahut Raja Ali Haji. "Jika semua dikuras, apa yang akan tersisa untuk anak cucu kita? Ibu Senah di depan sana pun risau."

Dekan Syariefuddin menghela napas panjang, aroma durian mentah menyeruak dari napasnya. "Itu persoalan pelik, nak. Ibarat pantun: Kalau bumi sudah tak bersisa, anak cucu mau makan apa? Jujur saja, akal saya pun sudah ketat memikirkannya."

Tiba-tiba, dari arah Gedung Fakultas Pertanian, muncullah Profesor Kaktus, seorang botanis eksentrik yang selalu memakai topi caping dengan hiasan bunga-bunga hidup di sekelilingnya.

Halaman:

Tags

Terkini