Di kejauhan, Ibu Senah masih mengelus panci esnya yang kosong, matanya sayu memandang gedung-gedung yang rakus.
Dan Raja Ali Haji, ia hanya bisa tersenyum masam, merangkai pantun lain, berharap ada jawaban yang lebih masuk akal, atau setidaknya, lebih lucu dari sekadar kaktus raksasa.
Tamat
Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja
Artikel Terkait
Perjalanan Sastra Indonesia, dari dulu hingga kini, seperti apa?
Punya satu program yang belum ditayangkan, Netflix beri kode bakal ada film dari novel romantis best seller yang akan dibintangi Meghan Markle
Sinopsis novel 'Sang Tokoh' karya Wina Armada Sukardi
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
CERPEN: Opera absurd
CERPEN: Kota masa depan