"Solusinya! Aku sudah menemukan solusinya!" teriaknya, mengacungkan sebuah pot bunga kaktus mini.
Baca Juga: Waspada sebelum beli mobil listrik, ini 5 alasan konsumen diminta jangan terburu-buru
"Apa itu, Prof?" tanya Dekan Syariefuddin, matanya berbinar.
"Kita tanam saja kaktus raksasa di dalam Gedung Ekonomi itu! Kaktus kan butuh sedikit air, dan dia bisa hidup di mana saja. Nanti kalau sudah besar, biarkan akarnya menembus ke inti bumi, lalu menyedot semua sumber daya alam dengan pelan-pelan, secara berkelanjutan! Jadi gedung itu tidak perlu menelan langsung, tapi cukup 'minum' dari kaktus!" Profesor Kaktus menjelaskan dengan semangat membara, bunga-bunga di topinya bergoyang-goyang.
Mendengar itu, Gedung Ekonomi URA menghembuskan napas keras, mengeluarkan asap tebal berbau belerang.
Seolah ia sedang tertawa terbahak-bahak atau, entah, sedang tersedak ide gila tersebut.
Raja Ali Haji menggelengkan kepala. Ide Profesor Kaktus terdengar seabsurd pantun jenaka yang dipelesetkan.
Tapi entah kenapa, ada sedikit harapan gila di sana. Mungkin dalam kegilaan, ada kearifan yang tak terduga.
Ia menatap langit Pekanbaru yang mendung, namun tak kunjung menurunkan hujan.
Gumaman Ibu Senah kembali terngiang. Bak tsunami… adakah yang akan tersisa?
Raja Ali Haji menarik napas dalam, lalu melantunkan sebuah pantun, bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk dirinya sendiri, dan mungkin, untuk gedung-gedung bernyawa di Kampus URA:
Buah pinang masak di sarang,
Makan sebiji pahit terasa.
Jika bumi sudah tak berkarang,
Anak cucu mau hidup di mana?
Gedung Ekonomi URA kembali menguap, kali ini mengeluarkan bau gosong. Mungkin sedang memikirkan nasibnya jika harus diet kaktus.
Artikel Terkait
Perjalanan Sastra Indonesia, dari dulu hingga kini, seperti apa?
Punya satu program yang belum ditayangkan, Netflix beri kode bakal ada film dari novel romantis best seller yang akan dibintangi Meghan Markle
Sinopsis novel 'Sang Tokoh' karya Wina Armada Sukardi
Merajut keragaman dalam sastra, UKWMS Kampus Madiun gelar 'Tadarus Puisi dan Pameran Puisi Eksperimental'
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
CERPEN: Opera absurd
CERPEN: Kota masa depan