Ia menyebut perjalanan pergi dan pulang sekolah membuat dirinya harus melewati sungai tersebut hingga empat kali setiap hari.
“Karena rumah kami jauh di pedalaman, dan adikku yang bersekolah SD takut melewati arus banjir, apalagi di sini banyak anak-anak SD lainnya,” sambung Asdar.
Baca Juga: Kebakaran TPA Galuga di Bogor meluas, helikopter TNI AU dikerahkan untuk water bombing
Perjalanan tersebut dilakukan dengan kondisi yang tidak selalu bersahabat. Selain arus sungai, hujan juga membuat medan di sekitar lokasi menjadi licin dan meningkatkan risiko longsor.
“Saat melewati sungai pun kami perlu bergandengan agar bisa aman tidak terbawa arus dan akhirnya bisa melewatinya,” tukasnya.
Kisah Asdar menggambarkan tantangan yang harus dihadapi siswa di pedalaman Nias untuk mendapatkan akses pendidikan.
Perjalanan menuju sekolah harus ditempuh dengan melewati sungai dan medan yang berubah mengikuti kondisi cuaca.***
Artikel Terkait
Kisah penemuan Bilqis, balita 4 tahun asal Makassar yang sempat dijual Rp80 juta hingga ditemukan di pedalaman Jambi
Gubernur Aceh ungkap pengungsi meninggal karena kelaparan, bantuan tak tembus pedalaman terdampak banjir bandang
Di tengah status transisi darurat, anak-anak dusun pedalaman Aceh Utara tertawa saat terima bantuan kasur
Cerita haru Sekjen Kemensos menjemput anak Sekolah Rakyat yang tinggal di pedalaman hutan Kalteng, rumahnya tak berlistrik
Bukan uang, siswa SD terpencil ini bahagia dapat ‘THR’ alat tulis, videonya viral
Haru siswa SMP di Sumedang pamit ke teman, diduga putus sekolah demi bantu ortu
Harapan di balik rapor, kisah haru petugas Damkar dampingi siswa yatim piatu di Ciamis