Pakistan jadi penengah perang Iran-AS, pengamat UI soroti risiko gagal dan tekanan internal

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Minggu, 29 Maret 2026 | 17:35 WIB
Yanuardi Syukur, peneliti di Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun
Yanuardi Syukur, peneliti di Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun

Baca Juga: Mobil listrik BYD nyemplung ke kolam Bundaran HI, diduga sopir kurang hati-hati

Sebagian masyarakat menilai langkah diplomasi hanya menjadi strategi untuk mengulur waktu sebelum pengerahan kekuatan militer lebih lanjut.

Di sisi lain, sikap pemerintah Pakistan dinilai tidak konsisten.

Pernyataan Perdana Menteri yang sebelumnya memuji Presiden AS kembali disorot dan menuai kritik publik di tengah situasi konflik.

Meski secara resmi Pakistan mengutuk serangan terhadap Iran, hubungan dengan Amerika Serikat tetap dipertahankan.

Kondisi ini dinilai dapat mengurangi kepercayaan terhadap peran Pakistan sebagai mediator netral.

Baca Juga: Ditinggal mudik, kontrakan warga Cengkareng mendadak jadi tempat sampah, keluhkan ulah tetangga

Perdamaian sulit tanpa penyelesaian akar konflik

Lebih jauh, Yanuardi menegaskan bahwa mediasi tidak akan berhasil jika akar konflik tidak disentuh secara serius.

Konflik antara Iran dengan AS dan sekutunya bukan hanya soal militer, tetapi juga menyangkut program nuklir, perebutan pengaruh kawasan, serta faktor ideologis dan agama.

Selama kepentingan mendasar tersebut belum menemukan titik temu, peluang tercapainya perdamaian dinilai masih sangat kecil.

Pakistan memang telah menawarkan diri sebagai tuan rumah perundingan dan melakukan diplomasi intensif.

Baca Juga: Banjir Brebes lumpuhkan jalur arus balik, debit air tembus 2,5 meter dan jadi rekor 20 tahun

Namun tanpa konsistensi sikap dari Islamabad, serta tanpa adanya kompromi nyata dari kedua pihak yang bertikai, peran tersebut berpotensi hanya menjadi simbolis.

“Pakistan punya posisi baik sebagai penengah, tapi tanpa niat baik dan kompromi substansial dari kedua kubu, perang bisa saja terus berlanjut,” ujarnya.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X