Baca Juga: Mobil listrik BYD nyemplung ke kolam Bundaran HI, diduga sopir kurang hati-hati
Sebagian masyarakat menilai langkah diplomasi hanya menjadi strategi untuk mengulur waktu sebelum pengerahan kekuatan militer lebih lanjut.
Di sisi lain, sikap pemerintah Pakistan dinilai tidak konsisten.
Pernyataan Perdana Menteri yang sebelumnya memuji Presiden AS kembali disorot dan menuai kritik publik di tengah situasi konflik.
Meski secara resmi Pakistan mengutuk serangan terhadap Iran, hubungan dengan Amerika Serikat tetap dipertahankan.
Kondisi ini dinilai dapat mengurangi kepercayaan terhadap peran Pakistan sebagai mediator netral.
Baca Juga: Ditinggal mudik, kontrakan warga Cengkareng mendadak jadi tempat sampah, keluhkan ulah tetangga
Perdamaian sulit tanpa penyelesaian akar konflik
Lebih jauh, Yanuardi menegaskan bahwa mediasi tidak akan berhasil jika akar konflik tidak disentuh secara serius.
Konflik antara Iran dengan AS dan sekutunya bukan hanya soal militer, tetapi juga menyangkut program nuklir, perebutan pengaruh kawasan, serta faktor ideologis dan agama.
Selama kepentingan mendasar tersebut belum menemukan titik temu, peluang tercapainya perdamaian dinilai masih sangat kecil.
Pakistan memang telah menawarkan diri sebagai tuan rumah perundingan dan melakukan diplomasi intensif.
Baca Juga: Banjir Brebes lumpuhkan jalur arus balik, debit air tembus 2,5 meter dan jadi rekor 20 tahun
Namun tanpa konsistensi sikap dari Islamabad, serta tanpa adanya kompromi nyata dari kedua pihak yang bertikai, peran tersebut berpotensi hanya menjadi simbolis.
“Pakistan punya posisi baik sebagai penengah, tapi tanpa niat baik dan kompromi substansial dari kedua kubu, perang bisa saja terus berlanjut,” ujarnya.***
Artikel Terkait
Iran tak goyah meski Khamenei gugur, AS-Israel terjebak konflik panjang
Konflik Israel-Iran memanas, Mahfud MD minta RI kembali tegas ke politik bebas-aktif
Perang citra dan mesin uang digital yang mengaburkan fakta konflik Iran
Kapabilitas rudal Iran dan ancaman nuklir, ini analisis peneliti UI Yanuardi Syukur
Mojtaba Khamenei jadi pemimpin Iran, peneliti UI Yanuardi Syukur prediksi konflik Timur Tengah memanas
China dan Rusia dalam perang Iran 2026: Dukungan terukur tanpa keterlibatan militer
Negara teluk ‘diam’ hadapi Iran, peneliti UI ungkap strategi bertahan di tengah ancaman