Momen hangat relawan banjir dan longsor Purbalingga, ada ‘Posko Ngopi’ di tengah bersih-bersih lumpur

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Senin, 2 Februari 2026 | 00:02 WIB
Momen kebersamaan relawan bencana Purbalingga, Jawa Tengah (Instagram/igoendonesia)
Momen kebersamaan relawan bencana Purbalingga, Jawa Tengah (Instagram/igoendonesia)

Bagi para relawan, ngopi bukan sekadar minum, melainkan cara sederhana untuk recharge energi, menguatkan mental, dan menjaga kebersamaan di tengah situasi darurat.

Baca Juga: Perkara dihentikan, Hogi Minaya resmi bebas usai bela istri dari penjambret

Dampak banjir dan longsor di lereng Gunung Slamet

Bencana banjir bandang dan tanah longsor di Purbalingga terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari, 23–24 Januari 2026, sekitar pukul 22.00 hingga 03.00 WIB.

Hujan berintensitas tinggi di kawasan lereng Gunung Slamet memicu bencana hidrometeorologi yang berdampak pada empat desa di dua kecamatan.

Berdasarkan catatan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, desa terdampak meliputi Desa Sangkanayu dan Desa Lambur di Kecamatan Mrebet, serta Desa Kutabawa dan Desa Serang di Kecamatan Karangreja.

Baca Juga: Viral longsor di bantaran Kali Bekasi Tambun Utara, enam rumah warga terdampak

Persiapan huntara, huntap, dan perbaikan infrastruktur

Pemerintah Kabupaten Purbalingga bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan kementerian terkait tengah menyiapkan relokasi bagi ratusan rumah terdampak.

Lokasi hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) kini dalam tahap persiapan.

Selain perumahan warga, perbaikan infrastruktur juga menjadi perhatian utama.

Jembatan yang putus akibat banjir bandang akan diperbaiki karena berpengaruh langsung terhadap mobilitas dan aktivitas ekonomi warga.

Baca Juga: Onad akui alami sindrom peter pan usai rehabilitasi narkoba, sulit move on dari usia 19 tahun

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, disebut telah berkoordinasi dengan TNI dan Polri untuk penyediaan akses sementara.

Sementara itu, BPBD Purbalingga mencatat banjir membawa material batu, kayu, lumpur, dan pohon dari kawasan pegunungan, serta menyebabkan kerusakan sekitar 60 hektare lahan persawahan di Desa Kutabawa yang berujung pada gagal panen.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X