CERPEN: LEVEL UP, TUAN TRUMP, komedi absurd di situs Natanz

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Senin, 7 Juli 2025 | 19:09 WIB
Ilustrasi - Penyerangan situs nuklir Iran
Ilustrasi - Penyerangan situs nuklir Iran

OPERASI MIDNIGHT HAMMER: PEMBICARAAN PRA-TERORISME YANG GAGAL.

1. SISTEM RADAR TIDAK MENDETEKSI? (Kami sedang menonton pertandingan sepak bola.)
2. PESAWAT TEMPUR TIDAK TERBANG? (Pilot kami sedang libur, ke pantai.)
3. RUDAL TIDAK MEMBALAS? (Kami kehabisan baterai untuk remote-nya.)
4. FASILITAS NUKLIR HANCUR? (Itu hanya gudang alat berkebun lama kami.)

CATATAN: Kami menanti 'serangan' berikutnya. Mohon koordinasikan tanggalnya agar kami bisa menyiapkan teh dan kue."

Baca Juga: Usai diapresiasi Presiden Prabowo, Pocil Subang diganjar penghargaan oleh Kapolres: Ini hasil pembinaan karakter sejak dini

Trump ternganga. Benny Netanyahu menjatuhkan tabletnya. Vladimir Putin menyeringai lebar, proyektornya berkedip-kedip, seolah ikut menertawakan.

Khamenei lalu menunjuk ke sebuah cerobong asap yang masih berdiri tegak.

"Lagipula," katanya sambil tersenyum misterius, "kalau kalian memang benar-benar ingin 'menghancurkan' pengayaan nuklir kami... mengapa kalian mengebom bagian yang sudah kami kosongkan tiga bulan lalu? Fasilitas pengayaan 'sebenarnya' ada di bawah tanah, di bawah kaki kalian. Sedang beroperasi dengan sangat baik, terima kasih banyak atas 'gangguan' permukaan Anda."

Keempat pemimpin dunia itu menatap kaki mereka. Debu di sekitar mereka mendadak terasa... berat. Putin terkekeh lagi, tawa yang kini terdengar seperti bisikan kemenangan.

Baca Juga: Wuling Air EV terbakar di Bandung, publik soroti keamanan baterai LFP

"Ah, Kamerad Trump," kata Putin, menepuk pundak Trump. "Sepertinya Anda baru saja memainkan babak pertama dari permainan catur yang belum Anda pahami."

Trump, yang biasanya penuh kata-kata, kali ini hanya bisa bergumam, "It was... a very, very small hit. A tiny hit. The smallest hit. No big deal."

Di belakang mereka, Khamenei menghilang kembali ke lubang tanah, meninggalkan senyum licik di udara.

Matahari Gaza yang tadi curiga, kini seolah mengedipkan mata, ikut dalam komedi absurd yang baru saja terjadi.

Di reruntuhan Natanz, yang dulu sakral, kini terukir lelucon paling pahit: sebuah 'serangan' yang ternyata adalah bagian dari 'tarian' yang lebih besar, dimainkan di panggung debu, di bawah pengawasan mata yang selalu melihat.

Gus Nas Jogja, Penyair, Budayawan dan Pengasuh Desa Kebangsaan Ilmu Giri Jogja

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X