Baca Juga: ESAI: Kang Dedi Mulyadi (KDM)
Dalam konteks hari ini, ketika diplomasi sering dipinggirkan oleh retorika populisme, Syahrir mengingatkan kita bahwa kerja internasional bukan sekadar lobi, tapi panggilan moral.
Bahwa yang kita perjuangkan di hadapan dunia bukan hanya kepentingan, tapi nilai-nilai.
Syahrir bukan hanya tokoh kemerdekaan, tetapi wajah Indonesia yang rasional, santun, dan beradab di mata dunia.
Melalui diplomasi damai, ia membuktikan bahwa kemerdekaan tidak harus selalu dituntut dengan senjata tapi bisa juga diperoleh lewat kata, keteguhan hati, dan logika yang bernurani.***
Artikel Terkait
Figur politik penting dalam perjalanan Indonesia, Soekarno, Sutan Syahrir, dan H Agus Salim
Sinopsis buku Soe Hok Gie 'Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan'
Sinopsis buku 'Di Bawah Lentera Merah' karya Soe Hok Gie
Soe Hok Gie dan relevansi gerakan mahasiswa hari ini
Bumi Manusia: Ketika pena menjadi senjata melawan penjajahan
Sutan Syahrir: Pemikir sunyi di balik proklamasi kemerdekaan
Politik sebagai moralitas, bukan sekadar kekuasaan