Suatu hari tepat 20 April 2006, di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur. Pramoedya pernah mengungkapkan kalimat yang sedemikian menyentuh.
"Saya sudah memberikan semuanya kepada Indonesia. Umur, kesehatan, masa muda sampai setua ini. Sekarang saya tidak bisa menulis-baca lagi.
Dalam hitungan hari, minggu, atau bulan mungkin saya akan mati, karena penyempitan pembuluh darah jantung.
Basa-basi tak lagi bisa menghibur saya."
Penulis Tretalogi : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca, ini harus menghadapi kenyataan bahwa umurnya tak lagi panjang.
Baca Juga: ESAI : Subang dalam perspektif Generasi Milenial (Generasi Y)
Di tempat lain, Pramoedya pernah becerita saat menjadi tahanan politik di masa Orde Baru, tepatnya di Pulau Buru.
Seorang temanya, membaca novel rancangan Bumi Manusia, dia lantas kabur, menghilang. Dicari-cari, bahkan berhari-hari tak muncul jua.
Akhirnya dia ditemukan dibagian salah satu hutan. Diseret, dibawa kembali ke penjara. Dia ditanya, ‘’Mengapa kabur ?’’ Dia menjawab, ‘’Saya ingin menjadi Minke.’’
Begitu kuatnya pengaruh sebuah tulisan Pram. Minke dalam novelnya fiksi dari wujud Tirto Ardhi Soerjo, Sang Pemula.
Jauh sebelum Soekarno, Hatta dan Hos Cokroaminoto, Tirto (Minke) mendirikan organissasi serikat priyai. Bukan hanya itu, Tirto mendirikan pers pribumi yang pertama Medan Priyayi.
Baca Juga: ESAI : Meminimalisir golput, tingkatkan kolaborasi dalam partisipasi politik masyarakat
Sosok Tirto Ardhi Seorjo sangat keras terhadap kolonial Belanda, ia tak segan-segan membongkar boroknya bupati pribumi.
Ia sempat berselisih dengan suami RA Kartini, bupati Rembang Djojo Adiningrat. Ia diasingkan ke Ambon, usaha medianya gulung tikar, namanya dikubur dari memori publik.
Pramoedya mengangkat sosoknya kembali melalui fiksi Minke. Lambat laun orang mulai sadar akan peran penting Tirto Ardhi Soerjo, bahkan kini diakui sebagai pahlawan nasional.