esai

ESAI: Kota Madiun menyibak tenunan kata yang dirindukan jiwa

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:20 WIB
Shal Shalihah (kiri) membedah prosa Perempuan yang Datang Ketika Hujan karya Fileski W. Tanjung (kanan) dalam forum diskusi Rusa Terbang Project di I-Club, Kota Madiun, Sabtu 14 Februari 2026, yang menegaskan pentingnya ruang dialog kebudayaan di tengah geliat kota

Baca Juga: Bocah 5 tahun asal Sulteng tampil di Carabao Junior Open 2026, Fajar Alamri dipuji 'cabe rawit' oleh Menpora

Mereka belajar bahwa berbeda pendapat bukan ancaman, melainkan kekayaan. Dari ruang-ruang kecil itu, karya-karya besar lahir. Dari percakapan sederhana, peradaban tumbuh.

Rusa Terbang Project telah memulai. Tugas kita adalah menjaga konsistensi. Sebab peradaban tidak dibangun oleh satu malam diskusi, tetapi oleh keberanian untuk terus berdialog meski audiens tak selalu penuh.

Jika proses ini dirawat, saya percaya akan lahir sastrawan, perupa, pemikir dari Madiun yang benar-benar membawa kota ini mendunia, bukan karena slogan, tetapi karena kualitas karya dan kedalaman gagasan.

Ketika diskusi usai dan kursi-kursi mulai dirapikan, saya menyadari sesuatu: yang kita rayakan bukan ego penulis, melainkan keberanian kolektif untuk kembali membicarakan karya.

Baca Juga: ICCN umumkan Tim Korda 38 provinsi, perkuat orkestrasi ekosistem ekonomi kreatif nasional

Kita sedang belajar menenun kembali jiwa kota. Hujan dalam prosa saya mungkin berhenti, tetapi percakapan tak boleh berhenti.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Madiun bisa mendunia. Pertanyaannya adalah apakah kita bersedia menyediakan ruang bagi pikiran untuk bertumbuh dan bagi hati untuk dilembutkan?

Apakah kita mau meluangkan waktu dari hiruk-pikuk gosip dan sensasi untuk duduk, membaca, dan berdialog?

Jika kesenian adalah cermin, beranikah kita menatap wajah kita sendiri di dalamnya?

Baca Juga: IPK Indonesia anjlok ke 34, Mahfud MD: Investor butuh kepastian hukum, KPK dinilai melemah

Dan ketika kita menemukan retak-retak kemanusiaan di sana, apakah kita akan menambalnya bersama, atau membiarkannya pecah?

Barangkali masa depan kota ini tidak ditentukan oleh seberapa tinggi gedungnya, melainkan oleh seberapa dalam percakapannya.

Jika kita sungguh ingin membangun Madiun, mari kita bangun juga jiwanya. Sebab kota yang besar bukanlah kota yang ramai, melainkan kota yang berpikir. 

Fileski W. Tanjung adalah penulis, seniman, pendidik dari kota Madiun. Aktif menulis esai, puisi, cerpen di berbagai media nasional. Sehari-hari mengajar seni budaya di SMAN 2 Madiun

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB