esai

ESAI: Kota Madiun menyibak tenunan kata yang dirindukan jiwa

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:20 WIB
Shal Shalihah (kiri) membedah prosa Perempuan yang Datang Ketika Hujan karya Fileski W. Tanjung (kanan) dalam forum diskusi Rusa Terbang Project di I-Club, Kota Madiun, Sabtu 14 Februari 2026, yang menegaskan pentingnya ruang dialog kebudayaan di tengah geliat kota

Baca Juga: Dony Ahmad Munir resmi gabung Gerindra, gema 'Prabowo Dua Periode' menguat di Sumedang

Sebab kebudayaan tidak tumbuh dari seremoni besar yang sesekali, melainkan dari percakapan kecil yang berulang.

Shal Shalihah, seniman muda yang baru menyelesaikan studi S2 kuratorial kajian seni rupa di UGM, menguliti prosa saya dengan ketelitian akademik.

Beberapa halaman analisisnya dibagikan kepada hadirin. Saya merasakan sebuah kemewahan intelektual, karya saya dibaca dengan sungguh-sungguh.

Ia menafsir metafora hujan bukan sekadar latar, melainkan simbol purifikasi dan repetisi trauma. Ia membaca perempuan dalam teks sebagai figur liminal, hadir di antara harapan dan kehilangan.

Baca Juga: Jembatan apung di Sawang Aceh Utara hampir rampung, warga tak perlu bayar Rp20 ribu naik getek lagi

Saya menanggapi, ia mengajukan pertanyaan lanjutan, dan forum pun menghangat.

Diskusi semakin kaya dengan kehadiran Dwi Aji Prajoko, Titus Tri Wibowo, Dwi Handayani, Ustad Yusuf Ahmad, Lintang Laili, Alfina Zalfa, serta Bayu Sanjoyo selaku wakil ketua dewan kesenian kota. Kehadiran wakil ketua DKKM Bayu Sanjoyo terasa seperti angin segar.

Selama ini, tembok birokrasi dan komunitas sering terasa terpisah. Malam itu, jarak itu mencair. Dewan kesenian membaur, urun rembug, mendengar dan didengar.

Sinergi semacam ini adalah syarat minimal bagi kota yang ingin berperadaban maju.

Baca Juga: 9 Tewas miras oplosan, polisi tahan pelaku dan buru pemasok ke Cirebon

Saya meyakini bahwa sastra adalah ruang refleksi kemanusiaan. Ia bukan sekadar hiburan estetis, melainkan laboratorium empati. Di dalamnya kita berlatih menjadi manusia seutuhnya.

Hannah Arendt pernah mengingatkan, 'Keadaan paling radikal dari kejahatan bukanlah kebencian, melainkan ketidakmampuan untuk berpikir.'

Ketika masyarakat berhenti berpikir secara mendalam, ketika kita tak lagi mau merenungkan makna, di situlah banalitas tumbuh.

Diskusi sastra adalah latihan berpikir. Ia menunda kesimpulan, merawat keraguan, dan membuka kemungkinan tafsir.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB