Baca Juga: Dony Ahmad Munir resmi gabung Gerindra, gema 'Prabowo Dua Periode' menguat di Sumedang
Sebab kebudayaan tidak tumbuh dari seremoni besar yang sesekali, melainkan dari percakapan kecil yang berulang.
Shal Shalihah, seniman muda yang baru menyelesaikan studi S2 kuratorial kajian seni rupa di UGM, menguliti prosa saya dengan ketelitian akademik.
Beberapa halaman analisisnya dibagikan kepada hadirin. Saya merasakan sebuah kemewahan intelektual, karya saya dibaca dengan sungguh-sungguh.
Ia menafsir metafora hujan bukan sekadar latar, melainkan simbol purifikasi dan repetisi trauma. Ia membaca perempuan dalam teks sebagai figur liminal, hadir di antara harapan dan kehilangan.
Baca Juga: Jembatan apung di Sawang Aceh Utara hampir rampung, warga tak perlu bayar Rp20 ribu naik getek lagi
Saya menanggapi, ia mengajukan pertanyaan lanjutan, dan forum pun menghangat.
Diskusi semakin kaya dengan kehadiran Dwi Aji Prajoko, Titus Tri Wibowo, Dwi Handayani, Ustad Yusuf Ahmad, Lintang Laili, Alfina Zalfa, serta Bayu Sanjoyo selaku wakil ketua dewan kesenian kota. Kehadiran wakil ketua DKKM Bayu Sanjoyo terasa seperti angin segar.
Selama ini, tembok birokrasi dan komunitas sering terasa terpisah. Malam itu, jarak itu mencair. Dewan kesenian membaur, urun rembug, mendengar dan didengar.
Sinergi semacam ini adalah syarat minimal bagi kota yang ingin berperadaban maju.
Baca Juga: 9 Tewas miras oplosan, polisi tahan pelaku dan buru pemasok ke Cirebon
Saya meyakini bahwa sastra adalah ruang refleksi kemanusiaan. Ia bukan sekadar hiburan estetis, melainkan laboratorium empati. Di dalamnya kita berlatih menjadi manusia seutuhnya.
Hannah Arendt pernah mengingatkan, 'Keadaan paling radikal dari kejahatan bukanlah kebencian, melainkan ketidakmampuan untuk berpikir.'
Ketika masyarakat berhenti berpikir secara mendalam, ketika kita tak lagi mau merenungkan makna, di situlah banalitas tumbuh.
Diskusi sastra adalah latihan berpikir. Ia menunda kesimpulan, merawat keraguan, dan membuka kemungkinan tafsir.