Anak-anak muda Subang yang sedang menempuh kuliah ataupun bekerja diluar, sebagian dari mereka telah pulang membawa pengetahuan, keresahan, kreativitas, juga tekad untuk membangun daerahnya, mereka ingin membuktikan kepada dunia bahwa kampung halaman mereka bukan titik kosong di peta Jawa Barat.
Seperti kata penyair Rendra,
“Kita ini yang berumur muda, harus mengambil keputusan.”
Dan keputusan itu perlahan menjadi bulat,
Subang harus maju. Subang harus 'Ngabret' keluar dari mentalitas masyarakat yang nyaman dijajah dengan kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan. Jika tidak, ia hanya akan menjadi catatan pinggir sejarah.
Baca Juga: RI siap produksi massal kapal selam tanpa awak: KSOT disejajarkan dengan Orca AS dan Poseidon Rusia
Potensi Subang berdiri di persimpangan, industri yang menghidupkan wilayah utara, pertanian yang menunggu disentuh teknologi, wisata yang butuh cerita baru, kreativitas yang menanti ruang bertumbuh, dan bonus demografi pemuda setiap tahun yang tak boleh diabaikan.
Tan Malaka pernah berkata masa depan bangsa adalah 'cita-cita yang tak kunjung padam.' Hari ini, Subang juga punya cita-cita itu, masih kecil, tapi membara.
Energi itu tumbuh dari banyak tempat, dari ruang-ruang komunitas, sekolah dan kampus yang mengasah nalar kritis, seniman yang menolak diam, pemuda desa yang ingin desanya tumbuh dan terang, pekerja industri yang ingin hidup mereka lebih layak.
Semua titik cahaya itu perlahan menyatu seperti gugusan bintang. Dan ketika bintang-bintang berkumpul, langit tak lagi gelap.
Baca Juga: Fakta longsor Cilacap: 16 Rumah tertimbun, 2 warga tewas, 21 masih hilang
Subang menyala bukan karena satu tokoh, satu program, atau satu proyek besar. Subang menyala karena banyak tangan, kecil dan besar yang menjaga nyalanya.
Subang menyala karena ada generasi yang menolak pasrah pada pesimisme. Subang menyala karena mimpi-mimpi kecil disiram setiap hari agar tidak padam.
Subang menyala, tak gelap. Sebab masa depannya dijaga oleh anak muda yang tidak takut bertanya, tidak takut bermimpi, dan tidak takut pada langkah sederhana bernama percaya.
Selama masih ada yang percaya, Subang tidak akan gelap.
Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) Jakarta