esai

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis

Subang sedang bangun.
Bukan dengan gegap gempita, bukan pula dengan pesta kembang api.
Ia bangun pelan, seperti matahari yang menyelinap di balik pucuk pinus Ciater,
atau desir angin laut Patimban yang membawa kabar tentang masa depan.

Subang bangun karena ia tak ingin menjadi gelap atau menolak Subang gelap.

Selama bertahun-tahun, kabupaten ini mungkin hanya seperti tempat perlintasan, dilewati, disinggahi sebentar, lalu orang melupakan atau dilupakan.

Namun di balik sunyinya, Subang menyimpan sesuatu yang keras kepala, harapan. Harapan yang tumbuh meski sebagian orang pesimis dan prustasi mengejek Subang sebagai daerah 'Susah Berkembang,'

Baca Juga: Pengamat sebut kemunculan Purbaya mirip Sri Mulyani di awal jabatan, ingatkan soal kelas menengah

Kini, harapan itu mulai menemukan titik bentuknya. Jalan-jalan diperbaiki, konektivitas dibuka, lampu-lampu PJU menyala di titik-titik yang dulu hanya dikenal sebagai gelap dan sepi.

Di utara, Pelabuhan Patimban tumbuh seperti janji yang akhirnya ditepati, pelan tapi pasti. Di selatan, wisata, pertanian, hingga ruang kreatif mulai mencari panggung.

Tapi cahaya sejati Subang sebenarnya tidak berasal dari beton, dermaga, atau pabrik. Cahaya itu datang dari jiwa-jiwa mudanya.

Anak-anak muda Subang tumbuh dengan kaki yang berpijak pada tanah kelahiran mereka, namun dengan pandangan yang jauh menembus batas geografis.

Baca Juga: Kisah tragis siswa SMPN 19 Tangsel diduga jadi korban bullying, sempat koma sebelum meninggal dunia

Mereka lahir dan tumbuh di tengah arus perubahan cepat, mengerti bagaimana dunia saat ini terus bergerak, dan memiliki hasrat untuk pulang ke rumah dan membangun daerahnya sendiri.

Soe Hok Gie pernah mengingatkan “Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya.” Dan hari ini, anak-anak muda Subang sedang berhadapan dengan tanda tanya terbesar,
Subang macam apa yang ingin mereka ciptakan?

Mereka memilih untuk tidak masa bodoh. Mereka peduli, mulai selektif melihat siapa hari ini yang benar-benar bekerja untuk rakyat, dan siapa yang hanya sekadar mencari kepentingan dan menjadi penumpang gelap pada gelombang pembangunan.

Baca Juga: Pencarian Alvaro Kiano mandek: CCTV terhapus, polisi telusuri jejak hingga Batam dan Cilegon

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB