Ia lalu menunjuk baris "Antara sengat dan madu, ia tuliskan rindu." "Ini kan dialektika dualitas! Antitesis dari eksistensi lebah yang paradoksal. Bukan kematian, tapi perjuangan!"
"Justru di situlah absurditasnya!" Jassin tak mau kalah. "Baris 'Menguras kolam kalimatku' adalah dekonstruksi logogram! Penulisnya sedang mengalami aporia semiotik, di mana sumber inspirasi (kolam) dikuras habis oleh waktu (Juni) yang membawa keniscayaan fana. Ini bukan cuma 'galau,' Chairil, ini adalah fatamorgana linguistik!"
"Fatamorgana Ndasmu!" Sebuah suara entah dari mana muncul tiba-tiba.
Chairil terkekeh-kekeh. Lalu menyedot ududnya dalam-dalam, menghembuskan asap putih ke cakrawala. "Puisi itu hidup! Kalau dia mati, dia akan bangkit lagi! Seperti aku! Setiap kali kau bilang aku mati, aku malah nulis puisi baru! Ini namanya vitalitas pos-mortem!"
Baca Juga: Viral aksi klitih berdarah di jalur Piyungan–Prambanan, Polda DIY buru pelaku
"Lagipula, siapa yang peduli sama semiotika aporia kalau puisi itu bisa bikin hati bergetar kayak digigit semut api? Atau membaca platform X yang isinya fitnah dan ghibah"
Mendengar perdebatan itu, beberapa penyair lain ikut nimbrung. Ada yang berpendapat bahwa 'Matinya Puisi di Bulan Juni' adalah puisi meta-narasi yang sedang merayakan kematian dirinya sendiri sebagai bentuk penolakan terhadap kanon sastra yang hegemonik.
Ada pula yang bersikeras itu hanya refleksi jujur seorang penyair yang sedang mengalami blokir kreativitas akut akibat kebanyakan makan mi instan.
Tiba-tiba, dari kerumunan, muncullah sesosok lebah tua yang rambutnya sudah ubanan. Ia terbang melingkar-lingkar di antara Chairil dan Jassin.
"Maaf, Tuan-tuan yang terhormat," desis lebah itu, suaranya seperti dengung speaker rusak. "Puisi itu, 'Matinya Puisi di Bulan Juni,' sebenarnya saya yang bawa. Dan saya tahu mengapa ia menulis 'Antara sengat dan madu, ia tuliskan rindu'."
Chairil dan Jassin serentak menoleh. "Kenapa?"
Lebah itu menghela napas. "Karena saya, si lebah, sedang jatuh cinta pada sekuntum bunga di bulan Juni. Dan bunga itu alergi terhadap serbuk sari. Jadi, saya tidak bisa mendekat, dan hati saya sakit seperti disengat. Tapi sakit itu melahirkan rindu. Rindu yang akhirnya saya minta si penyair itu untuk menuliskannya."
Para penyair dan kritikus terdiam. Jassin hampir menjatuhkan kacamatanya. Chairil menganga.