Baca Juga: Jokowi tanggapi hasil Bareskrim soal ijazah: Ya memang asli
Namun justru di sinilah letak kepemimpinan yang sejati diuji: apakah ia mampu melampaui tekanan politik domestik demi menciptakan perdamaian global.
Jika Trump bersedia mengambil langkah yang berani dengan mencabut veto atas Palestina, ia akan menandai era baru dalam politik luar negeri Amerika—yakni keberanian untuk berpihak pada keadilan internasional meski berisiko secara politik dalam negeri.
Selain itu, keberhasilan inisiatif ini juga sangat tergantung pada kesiapan negara-negara Arab untuk menyatukan suara dan memberi dukungan aktif, tidak hanya secara diplomatik tetapi juga dalam membangun kesiapan institusional negara Palestina, apalagi pasca serangan 7 Oktober 2023 lalu yang menjadikan Gaza porak-poranda.
Dunia Arab sebaiknya tidak bisa hanya bergantung pada goodwill Amerika Serikat; mereka harus memperkuat koordinasi, dukungan ekonomi, dan agenda bersama untuk masa depan Palestina yang merdeka dan berdaulat.
Baca Juga: Razia knalpot brong di Pagaden, Polsek amankan 16 sepeda motor
Dalam konteks inilah, kunjungan Trump ke kawasan Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Qatr (13-16 Mei 2025) dapat menjadi momentum penting untuk membangun konsensus regional yang kuat dalam mendukung two-state solution, sekaligus menandai titik balik dalam sejarah panjang konflik Timur Tengah.
Sebagai penutup, dukungan terhadap keanggotaan Palestina di PBB sebenarnya tidak hanya terkait pengakuan simbolik atau formalitas, tapi lebih dari itu adalah langkah strategis sebagai ‘pembuka pintu’ bagi stabilitas regional dan kemitraan ekonomi yang berkelanjutan.
Dengan posisi geopolitik Amerika Serikat yang kuat (terutama melalui peran Presiden Trump), dukungan terhadap pengakuan internasional Palestina akan menjadi fondasi penting bagi terciptanya two-state solution yang damai dan berkeadilan.
Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia