Setelah kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Timur Tengah dan mendapatkan komitmen investasi besar ke AS, maka langkah yang harus diperjuangkan adalah mendorong perdamaian Timur Tengah yang lebih substantif.
Dalam sebuah tulisannya di Aljazeera (14 Mei 2025), Jeffrey Sachs, seorang guru besar dan direktur Pusat Pembangunan Berkelanjutan di Universitas Columbia, dan Sybil Fares, seorang penasihat untuk Timur Tengah dan Afrika untuk Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan PBB menyampaikan argumen penting.
Keduanya melihat bahwa peluang historis Trump saat ini adalah ‘mendorong perdamaian abadi di Timur Tengah dengan mendukung keanggotaan penuh Palestina di PBB’ dan mencabut veto AS dalam proses pengakuan negara Palestina.
Baca Juga: Cinta lama bersemi di GBLA, Maruarar Sirait siap kucurkan Rp100 miliar untuk Persib Bandung
Pandangan Sachs dan Fares menurut saya relevan dalam konteks upaya perdamaian Timur Tengah yang saat ini terus mencari formula yang tepat.
Dukungan Trump terhadap keanggotaan Palestina di PBB dapat meningkatkan ‘legitimasi moral dan hukum’ yang telah lama diabaikan oleh kebijakan luar negeri AS yang bias terhadap Israel.
Hal ini akan menempatkan Amerika Serikat bukan sebagai pelindung sepihak, tetapi sebagai mediator netral dan kredibel.
Setidaknya, saat ini telah ada 146 negara anggota PBB yang mengakui PBB dan kemungkinan akan terus bertambah.
Gaya diplomasi Trump yang pragmatis berbasis transaksi—bukan ideologi—menjadi kekuatan tersendiri untuk menciptakan stabilitas di kawasan.
Baca Juga: Istana tanggapi isu reshuffle kabinet, tegaskan Prabowo rutin evaluasi kinerja
Trump bersedia bernegosiasi dengan aktor-aktor non-konvensional (seperti Iran, Hamas, bahkan Houti) yang menunjukkan bahwa dia memiliki keberanian politik yang mungkin tidak dimiliki oleh pendahulunya.
Dalam pandangan Musthafa Abd. Rahman, kesediaan AS untuk berunding kembali dengan Iran, menunjukkan ‘perubahan sikap AS terhadap Iran yang mengorbankan kepentingan sekutunya di Timur Tengah, Israel’, suatu sikap yang berbeda dengan Israel yang menginginkan opsi militer untuk menghancurkan instalasi nuklir Iran (Kompas, 16 Mei 2025).
Sikap ini merupakan peluang bagi para pihak untuk mendorong AS agar terus mengupayakan perdamaian Timur Tengah yang sejati, tidak berat sebelah, dan berkeadilan dengan pengakuan atas Palestina.
Jika AS mengakui negara Palestina, maka kepentingan strategis AS dalam stabilitas Timur Tengah dan perluasan kemitraan ekonomi kawasan dapat tercapai.