Ada satu pertanyaan yang lebih menggoda daripada 'Kapan nikah?' dan lebih tajam daripada 'Sudah vaksin booster keempat belum?' yaitu: 'Nama aslimu siapa sih?'
Terutama kalau kamu penulis, penyair, kolumnis, atau tukang ngelamun yang doyan nulis puisi sedih lalu menandatanganinya dengan nama semacam La Luna Fatimah, Raden Peot, atau Crescentia Rimbakara.
Di zaman ketika semua orang bisa publish di media sosial dan tampil seakan-akan telah menerbitkan dua puluh buku, nama pena alias nom de plume bukan lagi sekadar identitas alternatif—ia adalah gaya hidup.
Nama pena itu kayak selendang Nyi Roro Kidul: sekali dipakai, auramu bisa langsung berubah.
Misalnya, kamu bernama asli Darto Bin Slamet, tapi begitu kamu bikin akun puisi dan menulis sebagai Ezra Fadhil Laksmana, mendadak orang-orang menyangka kamu lulusan sastra dari Leuven dan doyan minum kopi sambil menerawang masa depan dari balkon berlumut.
Padahal kamu nulis puisi itu di konter pulsa sambil nyicil voucher data.
Dalam sejarah, penggunaan nama pena punya berbagai motif. Ada yang menyamar karena alasan politik, seperti George Orwell (nama asli: Eric Blair).
Ada juga yang ingin menjelajahi perspektif gender tanpa prasangka, seperti George Sand yang ternyata seorang perempuan bernama Amantine Lucile Aurore Dupin.
Di Indonesia, nama pena juga dipakai untuk menambah semangat literer, atau sekadar biar 'enggak ketahuan dosen pembimbing'.
Di sisi lain, ada penulis yang tak tahan dengan 'aura nama asli'-nya sendiri. Bayangkan menulis puisi patah hati paling mengharukan sedunia tapi harus menandatanganinya dengan nama 'Paidi'.
Atau kamu sudah bikin novel surealis absurd ala Kafka, tapi sampulnya bertuliskan 'Eman Supardan'.
Baca Juga: Akhirnya dapat kepastian, CPNS dan PPPK akan segera dapat NIP dan pengumuman pengangkatan