esai

ESAI: Sapardi, abu dan sedikit masokisme metaforis

Selasa, 15 April 2025 | 22:41 WIB
Ikhsan Risfandi dikenal dengan nama pena Irzi, Penulis Puisi

Sapardi adalah penyair yang tidak menunjuk apa-apa. Ia hanya menuliskan: 'aku ingin mencintaimu... seperti awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.'

Baca Juga: Ternyata pemain lama? Dinkes Garut ungkap 2024 pernah terima laporan pelecehan seksual yang diduga dilakukan dokter kandungan yang saat ini viral

Artinya? Ia mencintai bukan untuk dimiliki. Ia mencintai untuk menghilang. Ia mencintai, bahkan, untuk larut dan melebur. Apakah itu menyedihkan? Sangat.

Apakah itu romantis? Terlalu. Apakah itu... masokistik? Ya, tapi dalam kadar puitik yang tinggi. Masokisme eksistensial, katakanlah.

Yang membuat puisi ini centil justru karena ia begitu serius. Ia seperti orang yang berkata 'aku baik-baik saja kok,' tapi air matanya menetes di balik tirai jendela, sementara lagu instrumental mengalun sendu di kamar tidur.

Ia mengajarkan pada kita bahwa mencintai kadang tidak melulu tentang memeluk, tapi tentang bersedia melepaskan dengan utuh dan tetap mencium bayangnya sebelum menghilang.

Baca Juga: Titiek Puspa disemayamkan khusus pada area makam pahlawan di Tanah Kusir Jakarta, aktor Dwi Andhika: Eyang layak di sini

Dan jangan lupakan, puisi ini lahir dari penyair yang, dalam banyak wawancaranya, terlihat jauh dari citra cinta yang meledak-ledak. Sapardi itu jika boleh digambarkan bukan pangeran menunggang kuda putih.

Dia lebih mirip penjaga perpustakaan sunyi yang sedang membaca Rilke dan diam-diam menulis puisi di balik rak puisi Chairil Anwar. Tapi jangan salah, getaran puisinya lebih membakar dari orasi aktivis patah hati.

Jadi, apakah Sapardi masokis?

Tidak dalam artian kocok-mata-basah-bibir-gemetar. Tapi dalam puisi 'Aku Ingin,' kita bisa merasakan getaran cinta yang tahu diri, cinta yang tidak menuntut balasan, cinta yang tidak menggelegar, tapi menghanguskan perlahan, seperti dupa yang menyala di sudut ruangan doa.

Dan bukankah itu, pada akhirnya, bentuk cinta yang paling tulus? Ketika kau tahu kau akan jadi abu, tapi tetap kau datang membawa kayu dan api di tanganmu sendiri?

Baca Juga: Polisi dalami motif kekerasan seksual Priguna Anugerah yang tega rudapaksa korban saat ayahnya kritis

Sapardi tidak sedang minta disakiti. Tapi dia tahu, cinta sejati memang kadang tak perlu disembuhkan.

Ia cukup dirasakan. Diresapi. Dan dibiarkan membakar perlahan hingga hanya puisinya yang tersisa, mengambang di udara seperti wangi kenangan yang tak sempat kita ucapkan.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB