Sapardi adalah penyair yang tidak menunjuk apa-apa. Ia hanya menuliskan: 'aku ingin mencintaimu... seperti awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.'
Artinya? Ia mencintai bukan untuk dimiliki. Ia mencintai untuk menghilang. Ia mencintai, bahkan, untuk larut dan melebur. Apakah itu menyedihkan? Sangat.
Apakah itu romantis? Terlalu. Apakah itu... masokistik? Ya, tapi dalam kadar puitik yang tinggi. Masokisme eksistensial, katakanlah.
Yang membuat puisi ini centil justru karena ia begitu serius. Ia seperti orang yang berkata 'aku baik-baik saja kok,' tapi air matanya menetes di balik tirai jendela, sementara lagu instrumental mengalun sendu di kamar tidur.
Ia mengajarkan pada kita bahwa mencintai kadang tidak melulu tentang memeluk, tapi tentang bersedia melepaskan dengan utuh dan tetap mencium bayangnya sebelum menghilang.
Dan jangan lupakan, puisi ini lahir dari penyair yang, dalam banyak wawancaranya, terlihat jauh dari citra cinta yang meledak-ledak. Sapardi itu jika boleh digambarkan bukan pangeran menunggang kuda putih.
Dia lebih mirip penjaga perpustakaan sunyi yang sedang membaca Rilke dan diam-diam menulis puisi di balik rak puisi Chairil Anwar. Tapi jangan salah, getaran puisinya lebih membakar dari orasi aktivis patah hati.
Jadi, apakah Sapardi masokis?
Tidak dalam artian kocok-mata-basah-bibir-gemetar. Tapi dalam puisi 'Aku Ingin,' kita bisa merasakan getaran cinta yang tahu diri, cinta yang tidak menuntut balasan, cinta yang tidak menggelegar, tapi menghanguskan perlahan, seperti dupa yang menyala di sudut ruangan doa.
Dan bukankah itu, pada akhirnya, bentuk cinta yang paling tulus? Ketika kau tahu kau akan jadi abu, tapi tetap kau datang membawa kayu dan api di tanganmu sendiri?
Sapardi tidak sedang minta disakiti. Tapi dia tahu, cinta sejati memang kadang tak perlu disembuhkan.
Ia cukup dirasakan. Diresapi. Dan dibiarkan membakar perlahan hingga hanya puisinya yang tersisa, mengambang di udara seperti wangi kenangan yang tak sempat kita ucapkan.