Sapardi Djoko Damono dengan segala kelembutannya yang legendaris selalu berhasil menyelinap masuk ke ruang-ruang hati paling sunyi, lalu duduk manis di sana sambil menghidangkan puisi-puisi yang tampak sederhana, tapi ternyata menusuk seperti jarum akupunktur batin.
Dari sekian banyak puisinya, ada satu yang begitu populer, begitu ikonik, begitu sering dijadikan caption Instagram hingga jadi bahan cetak ulang di mug, kaos, bahkan undangan nikah. Puisi itu tak lain adalah 'Aku Ingin.'
Dan seperti kebanyakan puisi yang terlalu terkenal, ia kerap disalahpahami. Dianggap romantis. Dianggap manis. Dianggap puisi yang cocok dibisikkan di telinga kekasih saat hujan turun dan lampu redup.
Tapi mari kita korek sedikit lebih dalam, dengan gaya centil, namun tetap penuh kasih: apakah Sapardi sebenarnya... masokis?
Coba kita ulang penggalan paling mendayu dari puisi itu:
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu…”
Baru masuk bait pertama saja kita sudah diajak bertapa. Sebab, apa gerangan maknanya jika bukan cinta yang dengan ikhlas, bahkan rela, menjadikan dirinya abu? Si kayu tahu akan dibakar, dan tahu akan tiada.
Tapi dia tetap mendekat, tetap menyerahkan dirinya, dan malah menyebutnya cinta yang “sederhana.” Nah lho.
Dalam tafsir kasmaran yang cengeng (dan kita semua punya momen itu, ngaku!), ini bisa dianggap sebagai cinta yang indah dan tanpa syarat.
Tapi kalau kita pakai kacamata yang lebih centil dan skeptis, bukankah ini mirip dengan bentuk cinta yang... sedikit-sedikit masokistik?
Masokisme, dalam pengertian pop-nya, adalah kenikmatan yang muncul dari penderitaan. Tapi Sapardi, tentu, bukan pengikut aliran cinta yang suka disakiti.
Dia bukan penyair yang berkata, 'sakitnya tuh di sini,' sambil menunjuk dada. Tidak.