esai

ESAI: Panggung goyang Bu Salsa: Legitimasi sensasi di atas etika

Sabtu, 12 April 2025 | 16:28 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Saya tidak menolak ruang untuk pengampunan, bahkan pada sosok seperti Bu Guru Salsa. Tapi pengampunan tidak sama dengan pengagungan. Memahami tidak berarti mempromosikan. Memaafkan tidak berarti mengaraknya di layar kaca seolah ia pahlawan.

Di sinilah letak kegagalan media kita: tidak mampu membedakan antara hak untuk diceritakan dan hak untuk dielu-elukan.

Media bukan hanya cermin masyarakat; ia juga cetakan dari apa yang akan menjadi masyarakat kita.

Maka, pertanyaannya kini: masyarakat seperti apa yang sedang kita bentuk, ketika panggung nasional diberikan kepada figur yang menginspirasi bukan karena kebajikan, tetapi karena skandal. Dan apakah kita masih sanggup menonton tanpa merasa bersalah. 

Baca Juga: Komentar Dirut RSHS Bandung soal peserta PPDS Unpad diduga perkosa keluarga pasien: Otak kriminal, bukan belajar

Barangkali, inilah saatnya kita bertanya bukan hanya tentang siapa yang pantas tampil di televisi, tetapi lebih jauh: apa yang sedang kita kultuskan sebagai nilai dalam masyarakat?

Ketika sensasi menggantikan substansi, ketika kontroversi lebih dihargai daripada kontribusi, apakah kita masih bisa berbicara tentang kemajuan kultural, atau justru sedang mengabadikan keburaman moral sebagai norma baru?

Apa yang kita tonton, sejatinya adalah apa yang sedang kita wariskan.

Dalam kesunyian setelah siaran berakhir, ketika lampu studio padam dan layar kembali gelap, tersisa satu pertanyaan sunyi yang menggema dalam hati nurani kita masing-masing: apakah tontonan itu membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, atau justru lebih kebal terhadap nilai?

Baca Juga: Elon Musk gagal bujuk Donald Trump batalkan tarif impor, ekonom prediksi harga mobil akan meroket

Plato, dalam The Republic, mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga jiwa dari racun yang mengaburkan kebajikan. Ia menekankan, bahwa negara yang baik dibangun oleh individu-individu yang memiliki kendali atas jiwanya.

Jika demikian, maka ruang-ruang media hari ini adalah sekolah kebajikan atau, sebaliknya, pabrik kebingungan batin.

Kita perlu menengok kembali, siapa yang kita beri mikrofon, siapa yang kita beri kamera, dan siapa yang kita biarkan membentuk tafsir moral anak-anak kita.

Apa yang ingin kita ajarkan pada mereka—bahwa keberanian untuk menjadi terkenal, meski dengan cara yang merusak diri dan profesi, lebih penting daripada keberanian untuk setia pada integritas?

Baca Juga: Bisnisnya ikut babak belur, Elon Musk minta Donald Trump batalkan tarif impor

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB