esai

ESAI : Menyoal sastra masuk kurikulum

Kamis, 30 Mei 2024 | 18:08 WIB
Ucu S.S, Pendidik dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 6 Subang

Program sastra masuk kurikulum yang dipersiapkan saat ini, maka dipersiapkan pula masuknya buku-buku sastra yang menjadi bahan ajar. Ini akan lebih berpotensi untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dari sisi kecerdasan sosial, emosional dan spiritual.

Sastra merupakan produk kultural yang digali dari khazanah nilai-nilai budaya sebuah bangsa, yang didalamnya menggambarkan etika pergaulan, keadaban sebuah entitas.

Di dalam sastra terdapat penggambaran secara ril pola hidup, budaya dan kebiasaan masyarakatnya, Sehingga di dalam sastra kita dapat mengetahui gejolak haru biru kehidupan mengenai penderitaan, kebahagiaan serta pilihan-pilihan mengenai jalan hidup yang harus ditempuh seseorang yang digambarkan dalam cerita.

Dengan keberadaan ini, peserta didik akan dihadapkan pada pengalaman yang sangat berharga mengenai bagaimana dia harus menyikapi fenomena-fenomena yang mereka hadapi terkait dengan hal-hal yang mereka rasakan, mereka pikirkan, dan hal yang harus mereka lakukan dengan dasar etika dan keadaban sebagai seorang manusia.

Baca Juga: Catat, 8 jenis olahraga ini dapat menyehatkan jantung

Sebelum program ini diluncurkan, sebetulnya sastra sudah lama masuk ke dalam kurikulum yang berbasis teks. Salah satunya dalam pelajaran bahasa Indonesia melalui teks-teks yang berhubungan tentang sastra, seperti cerita rakyat, puisi, baik itu puisi lama, gurindam, syair, dan lainnya, namun memang melihat dari keberadaan pembelajaran yang telah berlangsung, tidak semuanya peserta menyukainya.

Entah ini karena memang bakat, minat, setiap siswa yang berbeda, kurangnya varian buku sastra yang ada atau mungkin faktor metode pembelajaran yang disajikan oleh guru, atau pula faktor lainnya, ini masih perlu pembenahan.

Berdasarkan pengalaman ini, seiring dengan keberadaan program sastra masuk kurikulum dengan varian buku sastra yang banyak, dalam hal ini yang telah disusun oleh Perpustakaan Nasional yang mencakup sejumlah 177 judul buku fuksi, menjadi sebuah upaya yang perlu kita sambut baik.

Meskipun sebagian banyak guru-guru menunggu sosialisasi mengenai maksud dan tujuan yang akan dicapai serta hal-hal teknis yang harus dilakukan ketika pelaksanaan pembelajaran.

Baca Juga: Fantastis! Kejagung ungkap kerugian negara pada kasus korupsi PT Timah capai Rp300 triliun

Dengan keberadaan ini, secara otomatis pula akan menambah kerja guru dan menjadi tantangan baru bagi sekolah-sekolah karena harus menyediakan buku-buku sastra.

Tidak kalah penting pula, mengenai program ini, sosialisasi untuk membentuk pemahaman terhadap orang tua dan peserta didik merupakan bagian tak terpisahkan dan sangat penting.

Hal ini karena dukungan orang tua terhadap proses pembelajaran peserta didik sangat berpengaruh.

Orang tua harus memiliki upaya untuk mendukung dan meningkatkan pembiasaan membaca peserta didik, terutama ketika berada di rumah, serta siswa harus memiliki keinginan untuk meningkatkan atau memperbanyak bahan bacaan.

Baca Juga: Innalillahi, istri Habib Luthfi bin Yahya meninggal dunia di RS Budi Rahayu Pekalongan, Presiden Jokowi langsung lakukan takziah ke rumah duka

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB