Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap Raden Ajeng Kartini—seorang perempuan ningrat Jawa yang melampaui zamannya melalui pemikiran dan perjuangan literasinya.
Kartini tidak hanya dikenal sebagai simbol emansipasi perempuan, tetapi juga sebagai seorang pemikir yang kritis terhadap struktur sosial, budaya, dan pendidikan yang timpang, khususnya bagi kaum perempuan pada masa kolonial.
Kartini lahir dalam lingkungan aristokrasi Jawa, sebuah dunia yang penuh aturan, batasan, dan simbolik kekuasaan patriarki.
Meski mendapatkan pendidikan formal di sekolah Eropa (ELS), perjalanan intelektualnya lebih banyak terbentuk dari proses membaca dan korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda.
Baca Juga: Kilometer pertama Subang Leucir: Jalan rusak puluhan tahun akhirnya dibeton
Dalam surat-suratnya, Kartini mengungkapkan kegelisahan atas sistem feodal dan kolonial yang menempatkan perempuan hanya sebagai pelengkap, tanpa hak atas pendidikan maupun kebebasan berpikir.
Pemikiran Kartini bukan sekadar bentuk perlawanan individual, melainkan juga bagian dari kesadaran sosial yang tumbuh dalam konteks awal kebangkitan nasional.
Kartini menulis tentang pentingnya pendidikan perempuan sebagai fondasi kemajuan bangsa, dan hal ini selaras dengan gagasan modernisme awal di Hindia Belanda, di mana keterdidikan menjadi salah satu kunci kemerdekaan intelektual.
Dalam konteks kontemporer, warisan pemikiran Kartini tetap memiliki relevansi kuat.
Data dari BPS dan berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa meskipun capaian perempuan Indonesia dalam bidang pendidikan dan profesi telah meningkat signifikan, ketimpangan masih terjadi.
Baca Juga: Vatikan ungkap permintaan Paus Fransiskus, ingin pemakamannya dilakukan dengan sederhana
Perempuan masih mengalami diskriminasi di dunia kerja, kekerasan berbasis gender, serta beban ganda dalam ranah domestik dan publik.
Selain itu, tantangan baru muncul dalam bentuk kekerasan digital dan representasi perempuan yang bias dalam media sosial.
Oleh karena itu, memperingati Kartini seharusnya tidak berhenti pada seremoni mengenakan kebaya atau menyanyikan lagu-lagu penghormatan.
Artikel Terkait
Sambut Hari Kartini, Srikandi Polres Subang bagikan sembako dan kantong ketupat pada warga membutuhkan
Dihadiri Kadis LH, Ekspos Adiwiyata Provinsi SDN RA Kartini tampilkan seni budaya dan kerajinan barang bekas
Hari Kartini, mengenang perjuangan pahlawan emansipasi wanita
Peringati Hari Kartini, Menteri PPPA ajak perempuan Indonesia teladani perjuangan RA Kartini
RA Kartini, suarakan emansipasi wanita di tengah tatanan tradisional, ini yang diperjuangkanya
BBPOM Bandung lakukan sertifikasi PJAS di SDN RA Kartini, ini hasil yang diharapkan
ESAI: Membaca ulang surat-surat Kartini di bawah tumpukan kebaya