Kehidupan Keluarga Hamka: Punya Kakak Pendeta
Masih dalam buku Buya Hamka: Pribadi dan Martabat, Buya Hamka menikah dengan Siti Raham saat usianya masih muda, tepat pada 5 April 1929. Kala itu, Hamka berusia 21 tahun, sementara istrinya berusia 15 tahun.
Dari pernikahan itu, sebagaimana dicatat oleh Irfan Hamka dalam AYAH...: Kisah Buya Hamka, Hamka dan Siti Raham diberkahi 10 orang anak.
- H. Zaki Hamka (meningal di usia 59 tahun)
- H. Rusjdi Hamka
- H. Fachry Hamka (meninggal di usia 70 tahun
- Hj. Azizah Hamka
- H. Irfan Hamka
- Prof. Dr. Hj. Aliyah Hamka
- Hj. Fathiyah Hamka
- Hilmi Hamka
- H. Afif
- Shaqib Hamka
Seperti dicatat Iswara N. Raditya dalam Kisah Buya Hamka dan Awka: Kakak Ulama, Adik Pendeta, meskipun dibesarkan dari keluarga muslim yang sangat kuat, nyatanya Buya Hamka punya seorang kakak bernama Abdul Wadud Karim Amrullah (Awka) yang menjadi seorang pendeta. Mereka adalah saudara seayah tetapi beda ibu.
Adiknya pun sudah sejak lama menggunakan nama Willy Amrull, tepatnya sejak di Amerika. Kisah itu bermula di tahun 1970, Awka menikah untuk kedua kalinya dengan seorang gadis blasteran Amerika-Indonesia, Vera Ellen George. Gadis itu awalnya bersedia masuk Islam demi menjalani bahtera rumah tangga dengan Awka.
Mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Rehana Soetidja dan Sutan Ibrahim yang lahir di Amerika, serta Siti Hindun yang lahir belakangan di Bali. Awka membawa pulang keluarganya ke Indonesia pada 1977.
Namun, ia tak pulang ke kampung halamannya di Maninjau, Sumatera Barat, melainkan ke Bali tempat di mana Awka saat itu bekerja. Dari sinilah prahara itu dimulai. Vera ingin kembali memeluk agama asalnya, Kristen.
Awka pun mulai diajak. Awalnya Awka tak mau karena latar belakang keislamannya yang sangat kuat. Namun, akhirnya ia luluh demi keutuhan rumah tangga dan ketiga buah hati mereka.
Tahun 1981, Awka sekeluarga pindah ke Jakarta, dan tiga tahun berselang, ia dibaptis oleh Pendeta Gerard Pinkston di Kebayoran Baru. Di tahun yang sama, 1983, Awka kembali ke Amerika Serikat.
Tak lama kemudian, ia ditetapkan sebagai pendeta oleh Gereja Pekabaran Injil Indonesia (GPII) di California. Sejak saat itu, Awka dikenal dengan nama Pendeta Willy Amrull.
Tasawuf ala Modernis Hamka
Dalam Buya Hamka: Politikus tanpa Dendam, Modernis yang Serius Bertasawuf dituliskan, Hamka adalah seorang modernis tulen. Ayahnya, Abdul Karim Amrullah, termasuk pembaharu agama di Minangkabau.
Jalan juang Hamka diretas di Muhammadiyah dan Masyumi, dua lembaga yang merepresentasikan semangat modernisme Islam.
Sebagaimana para modernis lain, Hamka melihat ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang netral (bebas nilai). Karena itu perkembangan ilmu pengetahuan (termasuk dari dunia Barat) dianggap dapat bersesuaian dengan ajaran Islam.
Artikel Terkait
Seseorang masuk surga bukan karena amal? Begini penjelasan Buya Yahya
Catatan aktivis dan 5 puisi Soe Hok Gie yang inspiratif
Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Indonesia yang dihilangkan dalam sejarah, berikut perjalanan hidupnya
Amalkan dzikir ini untuk menyembuhkan segala macam penyakit menurut Ustadz Adi Hidayat
Pemuda Muhammadiyah Subang kutuk keras pelaku penembakan Sekum PP PM 2010-2014