GENMILENIAL.ID — Influencer dan kreator konten edukasi finansial, Theo Derick, menyoroti fenomena sandwich generation yang belakangan ramai diperbincangkan di tengah masyarakat Indonesia.
Menurutnya, munculnya generasi “terjepit” ini bukan semata karena persoalan ekonomi, melainkan lebih dipengaruhi oleh perbedaan mindset tentang keuangan dan investasi sejak kecil.
Sandwich generation sendiri dikenal sebagai kelompok orang dewasa yang harus menanggung beban finansial tiga generasi sekaligus, yakni orang tua, diri sendiri, dan anak-anak mereka.
Namun, Theo menilai bahwa akar persoalannya jauh lebih dalam daripada sekadar penghasilan yang terbatas.
“Realitanya, apa yang dibicarakan di rumah itu beda. Cara pandang soal uang di keluarga berada dan keluarga kurang mampu itu sangat jauh,” ungkap Theo, dikutip dari siniar YouTube Raymond Chin, Sabtu, 17 Januari 2026.
Perbedaan lingkungan bentuk cara pandang finansial
Theo menjelaskan, sejak kecil seseorang sudah dibentuk oleh lingkungan tempat ia tumbuh. Hal itu kemudian memengaruhi cara berpikir soal uang, investasi, hingga masa depan.
Ia mencontohkan pengalaman pribadinya ketika tumbuh di lingkungan yang akrab dengan persoalan ekonomi.
“Dulu saya lihat sendiri, di sekitar rumah itu biasa ada debt collector, judi, sampai prostitusi. Itu jadi pemandangan yang normal,” kata Theo.
Baca Juga: Tantangan besar John Herdman di Timnas Indonesia: Misi akhiri puasa gelar 30 tahun di Piala AFF 2026
Berbeda ketika ia mulai berinteraksi dengan lingkungan yang lebih mapan secara ekonomi.
“Ketika bertemu orang-orang berada, suasananya beda. Pembicaraannya juga beda,” lanjutnya.
Investasi jadi pembeda utama
Artikel Terkait
KUHAP baru tuai polemik: Frasa ‘keadaan mendesak’ dipersoalkan, Ferry Irwandi sarankan judicial review ke MK
Prabowo sentil orang tua soal murid nakal: Guru tegas bukan berarti salah
Menata ulang ekonomi media: Seminar Nasional soroti ketimpangan platform digital vs industri pers
Ferry Irwandi ungkap fakta lapangan pascabencana Sumatera, salurkan donasi Rp10 miliar untuk korban
Belajar dari Swiss dan Jepang, Ferry Irwandi soroti bahaya gelondongan kayu pascabanjir Sumatera
Ferry Irwandi ingatkan risiko syok pasar usai kirim cabe dari Aceh: Rantai suplai jangan rusak
Refleksi Ferry Irwandi di awal 2026: Pendidikan harus hadirkan manfaat nyata bagi masyarakat