seni

Mengenang sosok penyair Legenda Indonesia, Sapardi Djoko Damono

Selasa, 21 Maret 2023 | 22:16 WIB
Penyair dan Guru Besar Sastra UI Sapardi Djoko Damono

Cukup lama Sapardi bekerja di Semarang, ia memutuskan pindah ke Jakarta pada tahun 1973 untuk menjadi direktur pelaksana sebuah yayasan Indonesia yang menerbitkan majalah sastra Horison. 

Sejak 1974 mengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sekarang Fakultas Ilmu Budaya). 

Sapardi diangkat menjadi Dekan Fakultas Sastra UI periode 1995-1999, setelah sebelumnya diangkat menjadi Guru Besar. 

Saat itu Sapardi juga menjadi Country Editor Majalah Horison, Basis, Kalam, Pengembangan Bahasa Indonesia, Majalah Ilmu Sastra Indonesia dan Majalah Tenggara di Kuala Lumpur. 

Baca Juga: Jadwal tayang beserta daftar pemain film Buya Hamka, salah satunya Laudya Chintya Bella

Setelah pensiun sebagai dosen UI pada 2005, Sapardi tetap mengajar di Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta sambil terus menulis cerita fiksi dan nonfiksi. Beliau adalah salah satu pendiri Yayasan Lontar. 

Puisi-puisi Sapardi telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa daerah. Dia tidak hanya menulis puisi, tetapi juga cerita pendek. 

Ia juga menerjemahkan berbagai karya pengarang asing, menulis esai dan menulis beberapa kolom atau artikel di surat kabar, termasuk artikel sepak bola. 

Beberapa puisinya sangat populer dan dikenal banyak orang, seperti 'Mi Volas' (sering kali bait pertamanya ada di undangan pernikahan), 'Hujan Bulan Juni', 

Kemudian 'Pada Suatu Hari Nanti', 'Akulah si Telaga' dan 'Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari'.

Baca Juga: Mau kuliah diluar negeri? Berikut 12 hal yang perlu dipersiapkan, salah satunya soal persyaratan dan bahasa

Popularitas puisi-puisinya semakin meningkat sejak para mantan mahasiswa FIB UI seperti Ags Arya Dipayana, Umar Muslim, Tatyana Soebianto, Reda Gaudiamo dan Ari Malibu mengaransemen puisinya menjadi musik. 

Salah satu album terkenal dari musik puisi itu adalah Reda dan Tatyana (bagian dari duet 'Doa Ibu'). Selain itu, Ananda Sukarlan juga menginterpretasikan beberapa puisi Sapardi pada 2007.

Musikalisasi puisi Sapardi dimulai pada tahun 1987 ketika beberapa muridnya mendukung program Pusat Bahasa dengan membuat puisi dari beberapa penyair Indonesia. 

Kegiatan ini merupakan upaya evaluasi karya sastra siswa SMA. Musikal 'Aku Ingin' karya Ags Arya Dipayana dan 'Hujan Juni' karya Umar Muslim tercipta saat itu. 

Halaman:

Tags

Terkini

CERPEN: Surat cinta untuk adinda

Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:39 WIB