Kemampuan berbahasa Remy juga patut diacungi jempol. Bahasanya antara lain Mandarin, Jepang, Arab, Yunani, Inggris dan Belanda. Dalam tulisan-tulisan ilmiah dan kuliahnya ia sering menggunakan berbagai bahasa.
Penulis ini suka memperkenalkan kata-kata bahasa Indonesia kuno yang jarang digunakan dalam fiksinya. Itu membuat karya sastranya unik dan istimewa, di samping kualitas tulisannya yang tak terbantahkan.
Tulisan novelnya mendukung penelitian tanpa kompromi. Seniman ini rutin mengunjungi Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip lama dan menjelajahi pasar buku lama.
Seorang penulis yang masih menulis dengan mesin tik ini juga menciptakan karya dengan latar belakang budaya asing. Selain menulis kreatif, ia juga kerap diundang untuk memberikan kuliah teologi.
Karier Remy Sylado tidak lepas dari dunia seni dan tulis menulis yang digelutinya. Selain itu, ia bekerja sebagai reporter di media cetak nasional, memulai pendirian Theatre Kitchen di Bandung dan menjadi moderator beberapa majalah.
Kariernya berlangsung lebih dari lima dekade, sebagai seorang aktor ia muncul dalam puluhan film dan merupakan salah satu aktor yang paling dihormati di generasinya.
Ia juga seorang penulis aktif, dengan beberapa karya yang diadaptasi ke layar lebar. Salah satu film paling populer berdasarkan tulisannya adalah Ca-bau-kan (2002), berdasarkan novel Ca-bau-kan dengan judul yang sama: Hanya Dosa (1999).
Penampilannya dalam drama romantis Tinggal Sesaat Lagi (1986), drama keluarga Akibat Kanker Payudara (1987), dan drama keluarga 2 dari 3 Anak Laki-Laki (1989) mendapat apresiasi dan pujian kritis, membuatnya mendapatkan nominasi untuk semua seri. Di festival film Indonesia Piala Citra.
Memulai karir sebagai Reporter Majalah Tempo (Semarang, 1965), Redaktur Majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), Dosen Akademi Film Bandung (sejak 1971), Presiden Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung.
Dia menulis resensi, puisi, cerita pendek, novel (dari usia 18 tahun), drama, kolom, esai, puisi, novel populer, buku tentang musikologi, dramaturgi, bahasa dan teologi.
Baca Juga: Tidak tahu tempat, komentar Komeng di postingan Cing Abdel menjadi sorotan netizen
Remy menerima Khatulistiwa Literary Award 2002 untuk novelnya Scarlet Red Veil.
Remy Sylado mengajar di beberapa universitas di Bandung dan Jakarta, antara lain Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, Sekolah Tinggi Teologi. Dia adalah seorang poliglot yang tahu banyak bahasa. Dia sering memakai pakaian serba putih di beberapa kesempatan.
Saat ini Remy Sylado sudah meninggal dunia, tepat pada tanggal 12 Desember 2022, kemarin.
Artikel Terkait
10 Puisi karya Sapardi Djoko Damono, salah satunya 'Yang fana adalah waktu'
Memperingati Hari Puisi Sedunia setiap 21 Maret, apa bedanya dengan Hari Puisi Nasional?
Mengenang sosok penyair Legenda Indonesia, Sapardi Djoko Damono
Salah satu penyair terbaik Indonesia, ini biografi singkat W.S Rendra
Selalu memiliki makna mendalam, ini 3 contoh karya W.S Rendra
Radhar Panca Dahana, jurnalis, esais dan sastrawan legenda Indonesia
Kumpulan puisi pilihan dari buku karya Radhar Panca Dahana, berjudul Manusia Istana: Sekumpulan Puisi Politik