Gejala mual muncul hingga tahu dari grup WhatsApp
Selain diare, Nur Hayati kemudian mengalami mual. Keluarga baru mengetahui dugaan keracunan tersebut setelah informasi mengenai korban MBG beredar di grup WhatsApp.
Baca Juga: Karhutla Kalsel meluas, kobaran api menyala di dekat RSJ Sambang Lihum
“Baru menyadari dari grup WhatsApp. Dari seharian tidur itu di grup pada kayak gitu, baru tahu ini kena MBG,” tambah Saadullah.
Sebelum dibawa ke RSUD Batang, Nur Hayati sempat mendapatkan pemeriksaan di Puskesmas Bawang. Setelah itu, petugas merujuknya ke rumah sakit.
Saadullah mengaku tidak mengetahui secara pasti makanan mana yang menyebabkan istrinya mengalami keluhan. Namun, berdasarkan penuturan Nur Hayati, ia sempat memakan sisa telur dari menu MBG.
Menu telur bolognese dibagikan ke 2.700 penerima
Dugaan keracunan tersebut dikaitkan dengan menu MBG yang didistribusikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang.
SPPG Bawang bertanggung jawab mendistribusikan MBG kepada sekitar 2.700 penerima manfaat yang berasal dari 11 sekolah.
Sekolah tersebut terdiri atas TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan.
Menu yang dibagikan pada Selasa, 22 September 2026 terdiri atas nasi putih, telur bolognese, sayur, tahu mendoan, dan anggur.
Operasional SPPG Bawang dihentikan sementara
Wakil Bupati Batang sekaligus Ketua Satgas MBG Batang, Suyono, mengingatkan pentingnya penerapan standar operasional prosedur atau SOP dalam penyediaan makanan.
Baca Juga: Subang dihadapkan dilema lumbung padi atau kawasan industri, Kang Rey ungkap luas LP2B