“Berdasarkan Rencana Aksi Kabut Nasional, yang berada di bawah yurisdiksi direktur Departemen Pendidikan Negara Bagian Sarawak,” tulis JPBN Sarawak dalam keterangan resminya pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Baca Juga: Rektor ditangkap KPK, bagaimana nasib mahasiswa Unsoed yang masuk lewat jalur mandiri bermasalah?
JPBN Sarawak juga menyebut sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan segera ditutup ketika angka API mencapai 200.
“Sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan segera ditutup begitu API mencapai 200,” tambahnya.
13 wilayah terdampak kabut asap
JPBN Sarawak menyatakan kualitas udara di wilayah tersebut menunjukkan tren peningkatan pada pembacaan API sejak 1 Agustus 2026.
Secara keseluruhan, terdapat 13 wilayah di Malaysia yang terdampak kabut asap.
Baca Juga: KAMMI tolak provokasi yang berpotensi pecah belah bangsa, sikapi rencana aksi 27 Agustus
Dua wilayah tercatat berada dalam kategori sangat tidak sehat. Pembacaan API mencapai 212 di Tebedu dan 202 di Serian.
“2 wilayah mencatat pembacaan API dalam kategori sangat tidak sehat, yaitu 212 di Tebedu dan 202 di Serian,” ungkap JPBN Sarawak.
Sementara itu, 11 wilayah lainnya masuk kategori tidak sehat. Wilayah tersebut meliputi Kuching, Samarahan, Sri Aman, Sarikei, Sibu, Bintulu, Samalaju, Miri, Lundu, Lubok Antu, dan Lawas.
Kondisi tersebut menunjukkan kabut asap tidak hanya berdampak pada satu kawasan, tetapi telah memengaruhi sejumlah wilayah di Sarawak.
Baca Juga: Bocah 7 tahun di Dairi Sumut diduga jadi korban penyiksaan sang bibi, wajah hingga kaki penuh luka
Anak-anak dan ibu hamil masuk kelompok berisiko
Indeks API nol hingga 50 menunjukkan kualitas udara baik, sedangkan angka 51 hingga 100 masuk kategori sedang. Sementara itu, pembacaan 101 hingga 200 termasuk tidak sehat.