Adapun angka 201 hingga 300 berada dalam kategori sangat tidak sehat. Pembacaan di atas 300 masuk kategori berbahaya.
Seiring memburuknya kualitas udara, JPBN Sarawak menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika indeks kualitas udara berada pada tingkat tidak sehat atau lebih tinggi.
Imbauan tersebut menjadi perhatian khusus bagi kelompok yang dinilai lebih berisiko terdampak pencemaran udara, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan masalah pernapasan atau jantung.
“Kelompok berisiko tinggi, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu dengan masalah pernapasan atau jantung, harus membatasi paparan mereka terhadap udara yang tercemar,” tandas JPBN Sarawak.
Kabut asap yang berdampak hingga wilayah Malaysia tersebut menjadi salah satu konsekuensi dari karhutla di kawasan Kalimantan.
Di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk, aktivitas pendidikan dan kegiatan masyarakat di sejumlah wilayah Malaysia harus menyesuaikan untuk mengurangi paparan terhadap udara tercemar.***
Artikel Terkait
Kisah pilu kepala regu Damkar di Jaktim gugur saat padamkan kebakaran TPS liar: Ucapan 15 tahun lalu jadi kenyataan
Jalur Malang-Lumajang ditutup imbas kebakaran Gunung Bromo, ini akses alternatif yang masih dibuka
Kebakaran gedung Bapenda DKI Jakarta, titik api diduga dari lantai 11 yang direnovasi
Kisah heroik Rudiansyah, remaja viral yang padamkan karhutla di Kalteng pakai kostum Superman!
Duh! Warga Banjarbaru keluhkan asap pekat karhutla selimuti jalan raya: Kalau laju bahaya, bisa kecelakaan
50 Ruko ludes dan 39 KK terdampak: Kerugian kebakaran Pasar Sungai Duri tembus Rp70 miliar
Pasar Sungai Duri di Kalbar luluh lantak imbas kebakaran, api diduga berasal dari tengah-tengah deretan ruko