news

Gus Miftah: Istana menghormati marwah ulama

Rabu, 12 Agustus 2026 | 18:09 WIB
Gus Miftah memberikan pandangannya menjelang Muktamar NU di Tambakberas, Jombang (Dok. Istimewa)

Baca Juga: Hadiri kaderisasi GP Ansor Jabar, Kang Akur titip pesan soal ekonomi masyarakat

Ia mengutip pesan dalam kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.

“Man thalaba al-riyasata fadhahahu Allahu.” Menurut Gus Miftah, pesan tersebut mengingatkan bahwa ambisi mengejar kepemimpinan dapat berujung pada kehinaan.

“Kekuasaan di NU itu bukan untuk direbut (dithalab), melainkan sebuah amanah berat yang digotong bersama atas dasar khidmah (pengabdian),” lanjutnya.

Ia menilai seseorang yang belum memiliki kapasitas memadai tetapi memaksakan diri maju dengan membawa klaim dukungan Istana justru berpotensi kehilangan wibawa di hadapan para kiai.

Baca Juga: ESAI: Berkah Tuhan vs monopoli materi

Gus Miftah berharap Muktamar ke-35 di Tambakberas dapat berlangsung secara bermartabat dan tidak menjadi arena transaksi kepentingan politik.

“Muktamar di Tambakberas harus menjadi panggung yang gembira, bersih dari transaksional, dan bermartabat. Biarlah para kiai sepuh di jajaran Syuriyah dan para muktamirin yang membawa mandat akar rumput yang menimbang dan memutuskan dengan nurani jernih,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji itu menegaskan dirinya tidak berada di pihak kandidat atau tim sukses mana pun. Ia mengaku hanya ingin NU memiliki masa depan yang lebih baik di tengah tantangan yang semakin besar.

Baca Juga: Subang jadi pusat kaderisasi GP Ansor Jabar, 164 peserta ikuti tiga agenda kaderisasi

“Saya sebagai orang yang mencintai NU dan bukan bagian dari timses manapun, hanya ingin NU menjadi lebih baik kedepannya. Semata karena tantangan besar kini berada didepan mata nahdliyin,” tuturnya.

Gus Miftah juga mengajak pihak di luar NU untuk menghormati ruang internal organisasi dan tidak membawa kepentingan politik praktis ke dalam forum muktamar.

“Ketika Istana memilih menghormati NU dari kejauhan dengan cinta dan proporsionalitas, maka elemen-elemen di luar sana mestinya tahu diri: jangan mengotori kesucian muktamar dengan dagang pengaruh yang stensilan,” tukasnya.***

 

Halaman:

Tags

Terkini

Gus Miftah: Istana menghormati marwah ulama

Rabu, 12 Agustus 2026 | 18:09 WIB