Gus Miftah: Istana menghormati marwah ulama

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Rabu, 12 Agustus 2026 | 18:09 WIB
Gus Miftah memberikan pandangannya menjelang Muktamar NU di Tambakberas, Jombang (Dok. Istimewa)
Gus Miftah memberikan pandangannya menjelang Muktamar NU di Tambakberas, Jombang (Dok. Istimewa)

“Sikap tegas ini bukan sekadar basa-basi politik atau pembelaan diri. Ini adalah sikap dasar yang lahir dari rasa hormat yang mendalam. Istana sangat mengerti posisi,” jelasnya.

Menurut Gus Miftah, bentuk penghormatan terhadap ulama bukan dengan ikut menentukan pilihan di internal NU, melainkan memberikan ruang bagi para kiai untuk menentukan masa depan organisasi.

“Menghormati marwah ulama bukan dengan cara ikut mengatur mereka, melainkan dengan memberikan ruang kedaulatan penuh bagi para kiai untuk menentukan masa depan jam’iyahnya,” tegasnya.

Baca Juga: Mobil mewah Bupati Lampung Selatan terjebak di jalan rusak, warga nyeletuk: Bapak saja ngeri, kan?

Ingatkan pihak yang membawa-bawa nama Istana

Gus Miftah juga menyoroti pihak-pihak yang menurutnya menggunakan nama Istana untuk mendapatkan dukungan dalam kontestasi Muktamar NU.

Ia menganggap praktik tersebut tidak elok karena dapat memengaruhi persepsi para peserta muktamar sekaligus menyeret nama Presiden ke dalam urusan internal organisasi.

“Jadi, sangat tidak elok jika masih ada pihak-pihak yang bergerak di bawah tanah, berbisik di lorong-lorong Muktamar, lalu menjual nama Istana. ‘Sudah dapat restu,’ atau ‘Ini titipan Pusat,’” tambahnya.

Ia meminta pihak yang mengklaim mendapat restu Istana untuk menghentikan tindakan tersebut.

Baca Juga: Dony Ahmad Munir: Kaderisasi GP Ansor penting untuk cetak pemimpin masa depan

“Klaim semacam itu bukan hanya kurang etis, tetapi juga bisa mengganggu akal sehat umat dan marwah para kiai dan juga menodai marwah serta kehormatan Presiden,” tegas Gus Miftah.

Ia juga mengingatkan agar isu intervensi tidak digunakan untuk memperkeruh suasana menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35.

“Jangan mengkerdilkan forum suci para ulama ini menjadi sekadar arena perebutan pengaruh politik praktis,” sambungnya.

Gus Miftah ingatkan jabatan di NU adalah amanah

Gus Miftah kemudian mengaitkan proses pemilihan kepemimpinan NU dengan tradisi pesantren.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Gus Miftah: Istana menghormati marwah ulama

Rabu, 12 Agustus 2026 | 18:09 WIB
X