“Jangan ada bahasa jemaah haji lansia itu merepotkan. Ini live,” tegasnya dalam rapat.
Menanggapi hal itu, Syatori mencoba meluruskan maksud pernyataannya dengan menjelaskan kondisi di lapangan.
Baca Juga: Tak cukup klarifikasi, Menhut Raja Juli lapor ke KPK soal amplop dari Bupati Kuansing
Soroti peran pendamping dan kondisi lapangan
Syatori menjelaskan bahwa banyak jemaah ingin fokus beribadah secara mandiri, sehingga tidak semua bersedia membantu jemaah lain yang membutuhkan pendampingan.
Ia juga mengungkapkan bahwa dalam satu kelompok terbang (kloter), terdapat puluhan jemaah yang harus menggunakan kursi roda.
Hal tersebut, menurutnya, menunjukkan pentingnya pemeriksaan kesehatan yang ketat sebelum keberangkatan agar jemaah benar-benar siap secara fisik.
Baca Juga: Polisi tetapkan 14 tersangka baru kasus daycare Little Aresha, total kini 27 orang
Warganet soroti sistem antrean haji
Viralnya pernyataan tersebut memicu reaksi dari warganet. Banyak yang menilai persoalan utama bukan pada jemaah lansia, melainkan sistem antrean haji di Indonesia yang sangat panjang.
Akibat antrean tersebut, banyak calon jemaah yang mendaftar saat masih usia produktif, namun baru bisa berangkat ketika sudah lanjut usia.
“Daftar masih muda, berangkat sudah tua,” tulis salah satu warganet.
Selain itu, ada pula yang menyarankan agar jemaah lansia tetap difasilitasi dengan pendamping dari keluarga agar ibadah tetap berjalan lancar.***