GENMILENIAL.ID — Lagu ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat menuai kontroversi dan menjadi sorotan publik.
Lirik lagu berbahasa Sunda tersebut dinilai mengandung stereotip serta merendahkan perempuan.
Sejumlah bagian lirik bahkan dianggap mengarah pada objektifikasi seksual sehingga memicu kritik dari berbagai pihak.
Beberapa potongan lirik yang dipersoalkan di antaranya 'Cacak mun jadi awewe, SMP kelas tilu tos karuron tujuh kali' (Andai saja jadi perempuan, SMP kelas tiga sudah keguguran tujuh kali).
Selain itu, terdapat pula lirik 'Teu kudu meuli kutang, nu busana leuwih gede batan susu' hingga 'Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek alatan telat bulan' yang dinilai sensitif dan berpotensi menyinggung perempuan.
Sebut sebagai refleksi kenakalan masa lalu
Menanggapi polemik yang berkembang, Bupati Purwakarta yang akrab disapa Om Zein akhirnya buka suara.
Ia menegaskan bahwa lagu tersebut bukan dibuat untuk merendahkan perempuan.
Menurutnya, lagu itu merupakan refleksi pribadi atas perilakunya di masa lalu. Bahkan, karya tersebut telah diciptakan sejak beberapa tahun lalu.
Baca Juga: ESAI: Ketika UU Pers bertemu era TikTok, masih relevankah regulasi yang dibuat pada 1999?
“Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal,” ujarnya, dikutip dari laman resmi PPID Purwakarta, Kamis 2 Juli 2026
Ia juga menyebut bahwa lirik tersebut merupakan bentuk kejujuran atas ketidaksempurnaan dirinya di masa lalu.
“Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri,” imbuhnya.