Bupati Purwakarta buka suara soal lagu Lalaki Langit yang dianggap rendahkan perempuan: Renungan perilaku nakal di masa lalu

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Kamis, 2 Juli 2026 | 14:05 WIB
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein buka suara mengenai polemik lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat yang tengah viral (PPID Purwakarta)
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein buka suara mengenai polemik lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat yang tengah viral (PPID Purwakarta)

GENMILENIAL.ID — Lagu ciptaan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat menuai kontroversi dan menjadi sorotan publik.

Lirik lagu berbahasa Sunda tersebut dinilai mengandung stereotip serta merendahkan perempuan.

Sejumlah bagian lirik bahkan dianggap mengarah pada objektifikasi seksual sehingga memicu kritik dari berbagai pihak.

Beberapa potongan lirik yang dipersoalkan di antaranya 'Cacak mun jadi awewe, SMP kelas tilu tos karuron tujuh kali' (Andai saja jadi perempuan, SMP kelas tiga sudah keguguran tujuh kali).

Baca Juga: Tambang galian C Banyuwangi disorot: Kajian JPKP ungkap potensi kerugian negara hingga dorong jerat TPPU

Selain itu, terdapat pula lirik 'Teu kudu meuli kutang, nu busana leuwih gede batan susu' hingga 'Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek alatan telat bulan' yang dinilai sensitif dan berpotensi menyinggung perempuan.

Sebut sebagai refleksi kenakalan masa lalu

Menanggapi polemik yang berkembang, Bupati Purwakarta yang akrab disapa Om Zein akhirnya buka suara.

Ia menegaskan bahwa lagu tersebut bukan dibuat untuk merendahkan perempuan.

Menurutnya, lagu itu merupakan refleksi pribadi atas perilakunya di masa lalu. Bahkan, karya tersebut telah diciptakan sejak beberapa tahun lalu.

Baca Juga: ESAI: Ketika UU Pers bertemu era TikTok, masih relevankah regulasi yang dibuat pada 1999?

“Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal,” ujarnya, dikutip dari laman resmi PPID Purwakarta, Kamis 2 Juli 2026 

Ia juga menyebut bahwa lirik tersebut merupakan bentuk kejujuran atas ketidaksempurnaan dirinya di masa lalu.

“Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri,” imbuhnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X