Kasus berbeda dialami Novia Ramadani Sihotang yang diketahui memiliki riwayat tuberkulosis (TBC). Ia sempat mendapatkan perawatan intensif di ICU sebelum dinyatakan meninggal dunia.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, almarhumah meninggal dunia akibat tuberkulosis,” ujarnya.
Sementara itu, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan meninggal akibat pneumonia yang diperparah oleh kondisi kesehatan lain seperti hipertensi dan obesitas.
“Penyebab kematian berkaitan dengan pneumonia atau infeksi paru-paru yang disertai komplikasi medis, termasuk hipertensi dan obesitas,” kata Ketut.
Baca Juga: Kutukan gocap GOTO kembali ramai dibahas, investor: Saatnya bikin wasiat buat anak
Kasus terakhir dan sorotan publik
Peserta terakhir, Nola Dya Sari, awalnya tidak menunjukkan gejala berarti. Namun, pada malam hari ia mengeluh sesak napas dan langsung dirujuk ke rumah sakit hingga mengalami henti jantung.
“Dalam proses penanganan terjadi henti jantung. Meski upaya medis telah dilakukan, kondisi pasien tidak dapat dipulihkan,” jelasnya.
Rangkaian kejadian ini memicu perhatian publik terhadap pelaksanaan pelatihan berbasis militer bagi peserta sipil.
Meski Kemhan menegaskan seluruh prosedur telah dijalankan sesuai standar, evaluasi terhadap kesiapan fisik dan kesehatan peserta dinilai penting agar kejadian serupa tidak terulang.
Kemhan memastikan akan terus melakukan pembenahan dalam pelaksanaan program ke depan, sekaligus memperkuat sistem skrining kesehatan sebelum pelatihan berlangsung.***