Setelah berhasil diturunkan, ARM langsung dilarikan ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
Petugas menilai kondisi fisiknya melemah akibat terlalu lama berada di atas tower tanpa asupan yang cukup.
Baca Juga: Semangat Kartini hidup di Subang, Ega Agustine ajak perempuan percaya diri dan berdaya
Diketahui, ARM merupakan perantau asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Hingga kini, pihak berwenang masih melakukan penanganan lanjutan terhadap yang bersangkutan.
Kerumunan warga dinilai tambah tekanan psikologis
Kepala Desa setempat, Sutrisno, menilai banyaknya warga yang berkerumun justru memberikan tekanan psikologis tambahan bagi korban saat berada di atas tower.
“Banyak yang nonton, waduh itu ribuan yang nonton sampai macet,” ujar Sutrisno di lokasi kejadian pada Kamis, 23 April 2026.
Baca Juga: Asuransi bukan investasi, IFG ingatkan pentingnya literasi keuangan bagi konsumen
Menurutnya, situasi tersebut membuat proses evakuasi menjadi lebih sulit karena korban berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil.
Diduga dipicu masalah asmara
Di balik aksi nekat tersebut, muncul dugaan bahwa ARM mengalami tekanan emosional akibat masalah pribadi, khususnya terkait hubungan asmara yang kandas.
Sutrisno menyebutkan bahwa informasi yang diterimanya mengarah pada persoalan tersebut.
“(Hubungan) diputus,” katanya singkat.
Baca Juga: Terobosan KUR berbasis kekayaan intelektual, pelaku ekraf bisa ajukan modal tanpa agunan fisik