Kejar penurunan stunting, Subang targetkan sisa 2 persen pada 2026

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Jumat, 3 Juli 2026 | 13:11 WIB
Plt. Kepala Bidang Pembangunan Ketahanan Keluarga DP2KBP3A Kabupaten Subang, Ida Farida, saat memberikan keterangan terkait upaya penurunan stunting di Kabupaten Subang
Plt. Kepala Bidang Pembangunan Ketahanan Keluarga DP2KBP3A Kabupaten Subang, Ida Farida, saat memberikan keterangan terkait upaya penurunan stunting di Kabupaten Subang

GENMILENIAL.ID – Pemerintah Kabupaten Subang menargetkan penurunan angka stunting secara signifikan pada tahun 2026. Dari kondisi saat ini sebesar 12,7 persen, angka stunting ditargetkan turun hingga 10 persen, sehingga menyisakan sekitar 2 persen.

Plt. Kepala Bidang Pembangunan Ketahanan Keluarga DP2KBP3A Kabupaten Subang, Ida Farida, mengatakan bahwa angka prevalensi stunting saat ini masih mengacu pada data yang tersedia, sementara data resmi tetap menjadi kewenangan Dinas Kesehatan.

“Kalau yang sekarang itu kita masih di angka 12,7 persen. Target turunnya 10 persen, jadi sisanya sekitar 2 persenan,” ujarnya.

Baca Juga: Demokrat Subang soroti pentingnya pendidikan politik perempuan, kuota 30 persen jadi prioritas

Tunggu hasil Survei Status Gizi Indonesia

Ida menjelaskan, perkembangan terbaru terkait angka stunting di Kabupaten Subang akan kembali diperbarui melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang direncanakan dilaksanakan pada 2026.

Menurutnya, survei tersebut akan menjadi acuan utama dalam menentukan kondisi riil di lapangan, apakah prevalensi stunting mengalami penurunan atau peningkatan.

Ia juga menegaskan bahwa koordinasi dengan Dinas Kesehatan tetap menjadi hal penting dalam penyampaian data resmi.

“Untuk data itu harus dari Dinas Kesehatan. Nanti akan ada survei status gizi lagi untuk melihat kondisi sebenarnya,” katanya.

Baca Juga: Viral warga tegur patwal mobil RI 21, berujung permintaan maaf dari petugas

Edukasi keluarga jadi fokus pencegahan

Dalam upaya menekan angka stunting, DP2KBP3A Kabupaten Subang mengandalkan peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang terjun langsung ke masyarakat. Tim ini memberikan edukasi kepada keluarga yang berisiko stunting.

Pendampingan tersebut meliputi pemahaman tentang pola asuh anak, pemenuhan gizi yang seimbang, hingga kesiapan keluarga dalam menghadapi kehamilan.

Pendekatan ini dinilai efektif karena menyasar langsung akar permasalahan di tingkat keluarga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X