GENMILENIAL.ID – Sikap negara-negara teluk yang terkesan 'diam' di tengah eskalasi konflik dengan Iran ternyata bukan tanpa alasan.
Di balik itu, tersimpan strategi bertahan yang dinilai lebih rasional dibanding terlibat langsung dalam konflik terbuka.
Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun, Yanuardi Syukur, menjelaskan bahwa posisi negara teluk saat ini ibarat berada di antara dua tekanan besar.
Terjepit di antara ancaman dan risiko eskalasi
Menurut Yanuardi, negara-negara teluk menghadapi dilema serius antara merespons serangan Iran atau menghindari konflik yang lebih luas.
Baca Juga: Arus lebaran memuncak, lalu lintas Tol Cipali naik 65,7 persen, rest area berlaku buka tutup
“Iran telah meluncurkan ribuan rudal dan drone ke kawasan teluk, bahkan fasilitas sipil seperti bandara dan kilang minyak menjadi sasaran,” ujarnya dalam wawancara eksklusif, Sabtu 21 Maret 2026.
Meski demikian, hingga kini belum ada respons balasan dari negara-negara teluk.
Kondisi ini mencerminkan posisi mereka sebagai pihak yang 'terjepit' antara kebutuhan mempertahankan diri dan kekhawatiran terhadap eskalasi yang lebih besar.
Serangan Iran dinilai berisiko picu konflik lebih luas
Pernyataan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan yang menyebut kepercayaan terhadap Iran telah runtuh menjadi sinyal meningkatnya ketegangan.
Baca Juga: Viral mobil pemudik pasang running text tebak-tebakan, bikin pengendara lain nggak ngantuk
Iran bahkan disebut telah memperingatkan potensi serangan ke fasilitas energi strategis di kawasan teluk, termasuk di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
Namun, menurut Yanuardi, langkah Iran justru berpotensi menjadi bumerang.