“Dengan menyerang infrastruktur sipil, Iran sebenarnya membuka legitimasi bagi negara teluk untuk membalas. Tapi mereka tetap menahan diri,” jelasnya.
Ketidakpercayaan pada Amerika jadi faktor kunci
Salah satu alasan utama sikap hati-hati negara Teluk adalah menurunnya kepercayaan terhadap Amerika Serikat sebagai sekutu.
Baca Juga: Lebaran tanpa Vidi Aldiano, ayah kenang tradisi foto keluarga penuh ide kreatif
Yanuardi menilai kebijakan Amerika yang tidak konsisten membuat negara teluk ragu untuk terlibat lebih jauh.
“Mereka khawatir jika ikut dalam konflik, Amerika justru menarik diri di tengah jalan dan meninggalkan mereka menghadapi Iran sendirian,” katanya.
Pengalaman masa lalu, termasuk konflik di Afghanistan, menjadi pertimbangan serius dalam mengambil keputusan.
Stabilitas ekonomi jadi pertimbangan utama
Selain faktor geopolitik, pertimbangan ekonomi juga menjadi alasan penting. Negara-negara teluk selama ini membangun reputasi sebagai kawasan yang stabil, terutama di sektor energi.
Baca Juga: Viral dua penumpang ketinggalan kapal Sofifi–Ternate, motor sudah berangkat duluan
Jika konflik terbuka terjadi, dampaknya dinilai akan jauh lebih merugikan dibandingkan manfaat yang diperoleh.
“Perang total justru bisa menghancurkan stabilitas yang selama ini mereka bangun,” ujar Yanuardi.
Diam sebagai pilihan rasional
Pada akhirnya, sikap tidak melakukan serangan balasan dinilai sebagai pilihan rasional di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
Negara-negara teluk memilih memperkuat pertahanan dan koordinasi regional sambil menunggu situasi mereda.
Artikel Terkait
Konflik Iran-Israel dan dinamika baru Timur Tengah: Perspektif Yanuardi Syukur, peneliti UI
Iran, obor sains Islam yang terus menyala: Perspektif Yanuardi Syukur soal kejayaan intelektual negeri para Mullah
Israel, negara kolonial pemukim: Wawancara khusus dengan Yanuardi Syukur
Iran tak goyah meski Khamenei gugur, AS-Israel terjebak konflik panjang
Kapabilitas rudal Iran dan ancaman nuklir, ini analisis peneliti UI Yanuardi Syukur
Mojtaba Khamenei jadi pemimpin Iran, peneliti UI Yanuardi Syukur prediksi konflik Timur Tengah memanas
China dan Rusia dalam perang Iran 2026: Dukungan terukur tanpa keterlibatan militer