Negara teluk ‘diam’ hadapi Iran, peneliti UI ungkap strategi bertahan di tengah ancaman

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 21 Maret 2026 | 22:26 WIB
Yanuardi Syukur, peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun
Yanuardi Syukur, peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun

“Dengan menyerang infrastruktur sipil, Iran sebenarnya membuka legitimasi bagi negara teluk untuk membalas. Tapi mereka tetap menahan diri,” jelasnya.

Ketidakpercayaan pada Amerika jadi faktor kunci

Salah satu alasan utama sikap hati-hati negara Teluk adalah menurunnya kepercayaan terhadap Amerika Serikat sebagai sekutu.

Baca Juga: Lebaran tanpa Vidi Aldiano, ayah kenang tradisi foto keluarga penuh ide kreatif

Yanuardi menilai kebijakan Amerika yang tidak konsisten membuat negara teluk ragu untuk terlibat lebih jauh.

“Mereka khawatir jika ikut dalam konflik, Amerika justru menarik diri di tengah jalan dan meninggalkan mereka menghadapi Iran sendirian,” katanya.

Pengalaman masa lalu, termasuk konflik di Afghanistan, menjadi pertimbangan serius dalam mengambil keputusan.

Stabilitas ekonomi jadi pertimbangan utama

Selain faktor geopolitik, pertimbangan ekonomi juga menjadi alasan penting. Negara-negara teluk selama ini membangun reputasi sebagai kawasan yang stabil, terutama di sektor energi.

Baca Juga: Viral dua penumpang ketinggalan kapal Sofifi–Ternate, motor sudah berangkat duluan

Jika konflik terbuka terjadi, dampaknya dinilai akan jauh lebih merugikan dibandingkan manfaat yang diperoleh.

“Perang total justru bisa menghancurkan stabilitas yang selama ini mereka bangun,” ujar Yanuardi.

Diam sebagai pilihan rasional

Pada akhirnya, sikap tidak melakukan serangan balasan dinilai sebagai pilihan rasional di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Negara-negara teluk memilih memperkuat pertahanan dan koordinasi regional sambil menunggu situasi mereda.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X