news

Perang citra dan mesin uang digital yang mengaburkan fakta konflik Iran

Minggu, 8 Maret 2026 | 11:14 WIB
Yanuardi Syukur, peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun

GENMILENIAL.ID – Perang modern tak lagi hanya melibatkan rudal dan tank, tetapi juga telah memasuki ranah digital di mana narasi dan citra dibentuk untuk memengaruhi opini publik.

Selain dampak fisik, perang kini mengandung elemen psikologis yang berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap informasi faktual.

Dalam wawancara eksklusif bersama GenMilenial.id, Minggu, 8 Maret 2026, peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun, Yanuardi Syukur, menilai serangan dan krisis ini bukan sekadar soal menahan ambisi politik Tehran, tetapi juga sebagai tekanan untuk mengubah rezim melalui berbagai front termasuk informasi digital.

Baca Juga: Delpedro Cs bebas dari kasus penghasutan demo, poster Affan Kurniawan dinilai solidaritas

Menurut Yanuardi, konflik kontemporer telah berkembang menjadi perang citra tanpa batas.

Medan pertempuran digital

Laporan terbaru dari BBC Verify menunjukkan ledakan konten video yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) yang telah menjadi viral di media sosial sejak perang antara AS-Israel dan Iran memanas pada awal 2026.

Ratusan juta tayangan terkumpul dari video dan gambar yang sebenarnya tidak mencerminkan kejadian nyata, tetapi dirancang untuk menarik perhatian dan memicu reaksi emosional dari publik global.

Konten semacam ini sering menampilkan peristiwa dramatis seperti ledakan besar atau kehancuran infrastruktur penting yang justru tidak pernah terjadi.

Baca Juga: Gus Miftah ajak rawat kebhinekaan dalam ngabuburit lintas Iman di Gereja Sleman

Tujuannya jelas, menciptakan kepanikan, mengikis kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang diverifikasi, dan memengaruhi perilaku turis, investor, atau bahkan warga negara yang hidup jauh dari zona konflik.

Mesin uang di balik misinformasi

Salah satu fakta yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa produksi konten palsu ini sering bukan didorong oleh motivasi ideologis, tetapi oleh peluang monetisasi.

Beberapa platform media sosial membayar pengguna terverifikasi berdasarkan jumlah tampilan video mereka.

Halaman:

Tags

Terkini