Perang citra dan mesin uang digital yang mengaburkan fakta konflik Iran

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Minggu, 8 Maret 2026 | 11:14 WIB
Yanuardi Syukur, peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun
Yanuardi Syukur, peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia sekaligus dosen Antropologi Universitas Khairun

Para ahli memperkirakan bahwa platform seperti X memberikan imbalan finansial yang signifikan untuk setiap juta tayangan konten populer, menjadikan pembuatan video AI palsu layaknya mesin uang digital.

Baca Juga: Kasad Maruli serahkan bantuan rumah untuk keluarga prajurit gugur, tegaskan tetap jadi keluarga besar TNI AD

Kemudahan penggunaan alat AI generatif yang semakin murah membuat individu atau kelompok tanpa latar belakang profesional pun dapat menciptakan konten seolah nyata.

Teknologi yang semula dirancang untuk meningkatkan efisiensi kini justru dipakai untuk menyesatkan publik dan menghasilkan pendapatan secara cepat.

Kepercayaan yang tergerus

Mahsa Alimardani dari Oxford Internet Institute memperingatkan bahwa konten semacam ini merusak kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang sahih.

Ketika mayat-mayat masih tertimbun reruntuhan di Minab, konten AI yang jauh lebih menarik perhatian justru mendominasi pemberitaan daring, menciptakan realitas tandingan yang makin sulit dibedakan dari fakta.

Baca Juga: Viral dugaan menu MBG berisi ulat di SMP Pasundan 9 Bandung, muncul chat guru cari penyebar video

Akibatnya, algoritme yang seharusnya menghubungkan manusia dengan informasi yang bermanfaat justru memperkuat penyebaran misinformasi.

Ketika realitas digital bertentangan dengan realitas faktual, yang sering tersisa hanyalah kebingungan dan keraguan.

Tantangan regulasi dan etika

Beberapa platform kini mulai menerapkan kebijakan yang lebih ketat, termasuk pelarangan monetisasi video perang yang tidak diberi label jelas sebagai konten generatif.

Meski demikian, para pakar menegaskan bahwa tidak ada solusi sederhana untuk mengatasi ketegangan antara prinsip keterlibatan pengguna dan kebutuhan akan informasi yang akurat.

Baca Juga: IFG dan BP BUMN perkuat tata kelola program TJSL melalui Three Lines Model

Perang Iran 2026 mengajarkan bahwa medan pertempuran telah bergeser ke ruang digital.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X