Baca Juga: Viral temuan belatung di puding stroberi menu MBG di Malang, pengelola dapur akui kelalaian
Korban berusia 12–21 tahun
Dwi menambahkan, para santri yang mengalami gejala keracunan memiliki rentang usia antara 12 hingga 21 tahun.
Meski sempat mengalami keluhan kesehatan, kondisi para pasien saat ini dilaporkan mulai membaik setelah mendapatkan perawatan.
“Keluhannya sudah berkurang, sudah membaik semuanya. Kami masih perlu observasi lebih lanjut,” katanya.
Polisi periksa sampel makanan
Sementara itu, Polres Jombang bersama Dinas Kesehatan setempat masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti insiden tersebut.
Baca Juga: Setelah viral dugaan keracunan massal siswa di Cimahi, sampel menu MBG dikirim ke Labkes Jabar
Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan, mengatakan pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara serta mengambil sejumlah sampel makanan yang dikonsumsi para santri.
Beberapa menu yang diperiksa antara lain nasi rawon dan telur asin yang merupakan bagian dari paket MBG.
“Semua sampel tersebut kami siapkan untuk pemeriksaan lebih lanjut di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Timur di Surabaya agar dapat diketahui penyebabnya secara ilmiah,” ujar Ardi.
Namun berdasarkan hasil uji cepat sementara, belum ditemukan adanya kandungan bahan kimia berbahaya pada sampel makanan tersebut.
“Dari hasil rapid test sementara tidak ditemukan kandungan bahan berbahaya seperti formalin, sianida, nitrat maupun arsenik,” katanya.
Hingga saat ini, pihak kepolisian dan Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut.***