Menurut Ray, Pilkada tak langsung berpotensi menyeragamkan pilihan politik dan menghilangkan kompetisi sehat antarkandidat, karena keputusan berada di tangan segelintir elite.
“Warnanya saja beda, simbolnya beda, tapi praktiknya sama,” imbuhnya.
Kepercayaan publik terhadap DPRD terus merosot
Isu krisis kepercayaan publik menjadi salah satu poin utama yang ditekankan Ray Rangkuti.
Ia mempertanyakan logika penyerahan hak memilih kepala daerah kepada lembaga yang justru tingkat kepercayaannya rendah di mata publik.
“Bagaimana kita menyerahkan kedaulatan memilih kepada anggota DPRD di tengah merosotnya kepercayaan kepada mereka?” ujarnya.
Ray bahkan menyebut DPR dan DPRD kerap masuk dalam daftar lembaga negara dengan tingkat kepercayaan terendah berdasarkan berbagai survei.
“Lalu, di tengah kondisi seperti itu, mereka diberi kewenangan menentukan kepala daerah? Ini paradoks,” tegasnya.
Belajar dari demo besar Agustus 2025
Ray mengingatkan peristiwa demonstrasi besar pada Agustus 2025 sebagai cerminan kejengkelan publik terhadap elite politik.
“Sedikitnya delapan kantor DPRD dirusak massa. Itu menunjukkan bukan kepercayaan, tapi kejengkelan,” ungkapnya.
Menurut Ray, alih-alih memperbaiki hubungan dengan rakyat, wacana Pilkada tak langsung justru berpotensi memperdalam jarak antara rakyat dan wakilnya.