Salah satu poin yang disorot adalah minimnya keberadaan sumur resapan banjir di kawasan permukiman.
“Kita tidak punya sumur resapan, semua warga resah,” ungkap mahasiswa lainnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat banjir seolah menjadi kejadian rutin setiap tahun. “Setiap tahun banjir ini dianggap biasa-biasa saja, seolah rutinitas tahunan,” katanya.
Padahal, sumur resapan dinilai penting untuk mengurangi limpasan air hujan sekaligus menjaga keseimbangan air tanah.
Warga tak butuh bansos, tapi solusi nyata
Dalam dialog itu, mahasiswa juga menegaskan bahwa warga terdampak banjir tidak semata-mata membutuhkan bantuan sosial.
Baca Juga: Rangka jembatan gantung jadi tumpuan anak-anak Aceh Tengah demi bisa sekolah
“Kami tidak berharap bansos dan lain sebagainya. Yang kami harapkan adalah solusi konkret,” tegasnya.
Solusi tersebut, menurut mereka, diperlukan agar warga bisa kembali beraktivitas dan menjaga perekonomian keluarga tanpa dihantui bencana berulang.
Para mahasiswa bahkan mengklaim telah turun langsung ke lapangan untuk memantau kondisi di sejumlah titik sebelum kunjungan pejabat pemerintah.
“Sebelum bapak, gubernur, atau wakil gubernur turun, kami sudah turun duluan ke lapangan untuk melihat kondisi sebenarnya,” ungkapnya.
Baca Juga: Registrasi akun SNPMB 2026 resmi dibuka, ini jadwal dan syarat jalur prestasi SNBP
Tanggapan Wapres Gibran
Menanggapi aspirasi tersebut, Wapres Gibran terlihat memberi perhatian serius dan langsung meminta pemerintah daerah untuk menindaklanjuti masukan para mahasiswa.